Lentera Padam

oleh -1,166 views

“UHUUK!” Aku terbatuk sekali sembari kututup hidungku menghalau kepulan asap yang dihela-embuskan melalui mulutnya. Ia menatap tajam ke arah kaleng yang kuletakan di sampingku. Aku pasrah kalau dia merampas kalengku. Namun siapa sangka? Aku tak mengira. Terdengar gemerincing koin didalam kalengku. Kulabuhkan rasa terima kasih dengan bahasa gestur tubuh. mulutku terkunci, tak sanggup menucap sebuah kata. Dihadapannya kepalaku menunduk memberi hormat. Kuraih tangannya kucium dengan kegirangan yang membeludaki nasi baikku. Ia tersenyum kepadaku. dan aku beranjak pergi, meninggalkan senyuman itu yang semakin menghilang.

Di pertengahan malam dalam jarak yang tak menentu. Langkahku terburu-buru menggapai tujuanku rumah yang berupa toko terbengkalai. Aku membelok di jalan bercagak, menghampiri warung yang tetap buka 24 jam. Uang yang ia berikan kugunakan dengan bijaksana.

Baca Juga  Komisi II DPRD Halsel Minta Satgas BBM Tertibkan Pertamini Tak Berizin

Aku Tera. Gadis penderita kanker mulut. Teringat kalimat sosok seorang Pii. Walapun dia hanya karakter tokoh sentral hasil imajinasi faisal fajri. Tetapi, Pii sanggup mempengaruhi hidupku.
Jika mau belanja jangan tunggu punya banyak uang, tapi tunggu menjadi lebih bijak. Biar bisa menghargai uang. Dalam hal tertentu. Kalau kita memilki banyak uang biasanya laper mata. kalimat itu kurapal dalam otakku. kuterapkan dalam hidupku.

No More Posts Available.

No more pages to load.