Sangat jelas, Presiden mengungkapkan pemicu pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara karena keberadaan smelter. Artinya, kegiatan ekonomi pengelolaan nikel ini menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi di Maluku Utara.
Secara ekonomi, hal ini sangat mungkin terjadi, karena adanya pengungkit ekonomi seperti itu. Setidaknya, hal itu membuktikan adanya multiplier effect ketika aktivitas ekonomi itu ditahan di daerah penghasil, misalnya nikel di Maluku Utara.
Situasi yang sama juga pernah dialami Bangsa Indonesia, ketika sumber minyak di Pangkalan Brandan, Sumatera Timur pada masa itu, berhasil menjual minyak ke luar negeri.
Hal itu menjadi momentum kebangkitan ekonomi Indonesia, kebetulan sekali, penulis menyaksikan sendiri bagaimana puing Pangkalan Brandan itu direhabilitasi agar Indonesia sendiri bisa menjual minyak ke luar negeri, meski Indonesia baru merdeka dan terlibat peperangan dalam masa agresi militer I dan II.
Sebagaimana sejarah mencatat, keberhasilan pengiriman minyak dari Pangkalan Brandan itu menjadi cikal bakal PT. Pertamina yang menjadi andalan selama masa orde baru bahkan sampai saat ini.
Namun, Nikel di Maluku Utara dan minyak di Pangkalan Brandan memiliki perbedaan yang sangat mendasar, karena minyak ketika secara mutlak berada di bawah kendali negara, sehingga minyak dikelola Perusahaan Negara (PN) Pertamina yang menjadi PN Pertamina sebelum berganti menjadi PT Pertamina.









