Maluku Utara, dari Nikel sampai Penjualan Pulau

oleh -10 Dilihat

Tidak boleh terjadi negara besar ini dikendalikan segelintir orang yang kaya dari sumber daya alam Indonesia. Kalau ini terjadi, maka sebenarnya sedang terjadi proses pemiskinan rakyat, sementara kekayaan alam bertumpuk pada segelintir elite. Tentu, bukan ini tujuan negara ini didirikan. Negara ini harus tetap menjamin masyarakat lokal merasakan dampak dari keberadaan kekayaan alamnya.

Namun, penulis berharap, pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Maluku Utara itu akan terus diikuti dengan kesejahteraan rakyat Maluku Utara, sehingga benar-benar merasakan dampak dari keberadaan nikel di wilayah Maluku Utara.

Kekayaan alam itu harus benar-benar dikelola untuk kesejahteraan rakyat di Maluku Utara, Indonesia, kemudian kalau ada kelebihan bolehlah untuk negara lain. Sebab, sangat fatal, kalau kekayaan alam itu diangkut ke luar negeri, sehingga rakyat lokal hanya disodorkan dengan angka statistik, tetapi tidak menyentuh persoalan substansi yang ada.

Baca Juga  Mantan Wakil Gubernur Maluku Utara M. Al Yasin Ali Meninggal Dunia di Makassar

Saat ini mari sejenak melihat nasib Pangkalan Brandan, setelah minyaknya dikeruk sampai kering, negara menelantarkan lapangan minyak itu sehingga nyaris tidak terurus.

Mungkin cukup pengalaman seperti ini terjadi di Pangkalan Brandan, jangan lagi terulang di Maluku Utara, Maluku, Papua dan di berbagai tempat yang menghasilkan kekayaan alam. Satu hal yang terlewatkan di Pangkalan Brandan, negara lupa memikirkan industri, sehingga hanya mengeruk minyak untuk dijual guna menopang anggaran negara.

No More Posts Available.

No more pages to load.