“Dasar Hatusaka seperti blender raksasa, apa pun yang terbawa masuk ke dasar gua, akan hancur berkeping-keping digilas pusaran air,” terang Rodhial Falah, perwakilan tim yang juga turun ke dasar gua.
Walaupun terletak di kedalaman ekstrem yang gelap gulita, tetap ada kehidupan di dalam sana. Tim ekspedisi menemukan sekelompok cacing tanah dan beberapa jenis serangga di dasar gua. Tim juga menemukan beberapa tumbuhan berdaun hijau setinggi 15 cm, sehingga diduga bahwa pada saat-saat tertentu cahaya matahari tetap bisa mencapai dasar Gua Hatusaka.
Gua Hatusaka berada di dalam area Taman Nasional Manusela, kawasan konservasi seluas sekitar 189.000 Ha. Lokasi kawasan ini hampir meliputi 75 persen kabupaten Maluku Tengah dan merupakan gabungan dari dua cagar alam, yaitu Wae Nua dan Wae Mual beserta seluruh perluasan wilayahnya.
sumber: liputan6










