Lebaran identik dengan baju baru, hidangan lezat, dan kebersamaan keluarga. Namun, di balik kebahagiaan itu, terdapat makna yang lebih dalam mengenai pelajaran tentang kesederhanaan, keikhlasan, serta kasih sayang.
Kisah Sayyidah Fatimah Ra bersama kedua putranya, Hasan dan Husain, menjadi pengingat bahwa Lebaran bukan sekadar tentang pakaian baru, melainkan tentang kebahagiaan yang lahir dari rasa syukur dan rezeki yang penuh berkah.
Kisah Siti Fatimah Ra di Hari Lebaran
Menjelang hari raya, Hasan dan Husain merasa sedih karena belum memiliki pakaian baru, sementara teman-teman sebaya mereka di Madinah telah bersiap menyambut Lebaran dengan pakaian terbaik mereka.
Rumah tangga Sayyidah Fatimah Ra dan Sayyidina Ali bin Abi Thalib tidak seperti keluarga sahabat lainnya. Mereka hidup dalam kesederhanaan, jauh dari kemewahan.
Kesedihan Hasan dan Husain semakin mendalam setiap kali melihat anak-anak lain mengenakan pakaian baru. Akhirnya, mereka memberanikan diri bertanya kepada ibunda mereka.
“Wahai Ibu, mengapa anak-anak di Madinah sudah berpakaian indah untuk hari raya, sedangkan kami belum?”.
Sayyidah Fatimah tersenyum lembut dan menjawab, “Pakaian kalian masih di tukang jahit”.
Jawaban itu terus mereka dengar setiap hari menjelang hari raya. Hingga malam takbiran tiba, Hasan dan Husain kembali bertanya dengan harapan yang sama.









