Nelayan dan Laut

oleh -154 views

Ia juga menempuh sekolah dari SD hingga SLTA kita biasanya diajak nonton video di rumahnya, sesuatu yang berkelebihan pada waktu itu. Bahkan berulang kali saya disuguhi ikan laut hasil tangkapan orang tua mereka, yang baru digoreng dimana terasa nikmat. Kadang juga saya datang untuk sekedar tidur siang di rumah mereka. Ada perasaan betapa kesederhanaan itu saya nikmati. Mungkin mereka juga demikian tidak risih dengan keterbatasan. Ada juga sirip ikan hiu (Selachimorpha) hasil tangkapan orang tua mereka, yang sudah dikeringkan lantas diikat pada gantungan ruang tamu mereka.

Pernah suatu waktu mungkin karena membutuhkan uang, bersama kawan saya menenteng sirip ikan hiu yang sudah dikeringkan lantas ditawarkan ke toko milik pedagang keturunan Cina. Dari satu toko ke toko yang lain kita datangi, kata kawan saya itu dalam dialeg Malayu Ambon menawarkan kepada mereka, “bapa ence bali ekor kaluyu karing kaseng”, kata bapa ence balik, “seng nyong”. Saya iseng bertanya apa manfaat ekor ikan hiu kering, kawan saya itu hanya katakan untuk obat. Lantaran tidak laris sirip ikan hiunya kita pun pulang, tapi ia tidak nampak kecewa tetap riang sepanjang jalan.

Baca Juga  DPRD Maluku Desak Polisi Usut Tuntas Kasus Pengeroyokan Pemuda di Air Kuning

Jika saja manajemen penangkapan hingga pemasaran sirip ikan hiu kering dilakukan dengan baik oleh orang tua mereka, tentu akan terkerak naik pendapatan mereka yang hanya diperoleh dari sirip ikan hiu kering saja, belum jenis ikan lainnya. Pasalnya harga pasaran tarif ekor ikan hiu kering saat ini yang tertinggi mencapai Rp8.200.000 per 1 Kg, dan yang termuruah Rp137.000 per 1 Kg. Ini adalah kondisi sosial ekonomi masyarakat nelayan, berdasarkan observasi langsung tatakala bersahabat dengan anak-anak mereka pada suatu cluster area warga masyarakat nelayan di Seram Bagian Selatan (SBL) yang berada di Masohi.