Pada Temaram Malam

oleh -1,168 views

Tolong jangan menangis Amaranggana, kau adalah seluruh cinta bagiku. Meskipun kau kini berdiri di hadapanku sebagai cinta yang tak bisa kuraih, tak dapat kudekap. Tapi bagiku kau tetaplah jiwa, yang di setiap langkahmu kusematkan doa. Tak hendak kuhapus itu. Aku hanya tak akan sanggup melihatmu bersenda gurau bukan denganku. Itu saja. Maka ijinkan aku pergi.”

Amaranggana hanya diam, matanya menerawang seperti menelusuri setiap kata yang terucap dari bibir Bhanu, sosok yang begitu sangat mengasihinya. Amaranggana menyadari dengan sangat, betapa Bhanu menyimpan cinta yang tak terbilang kepadanya. Sesungguhnya, ia ingin sekali menggenggam ketulusan cinta lelaki yang berdiri dihadapannya itu. Lelaki berwajah tenang yang tak pernah memberinya luka.

Baca Juga  Perbuatan Kaum Nabi Luth yang Disebut Rasulullah Akan Muncul Lagi di Akhir Zaman

Namun Amaranggana tak sanggup, sebab ia sudah tak mungkin, telah tak dapat. Amaranggana sudah akan melangsungkan pernikahan, dalam pekan ini. Faras Hirawan, dokter muda asal Surabaya itu sudah meminangnya. Orangtua Amaranggana dengan gembira telah menerimanya, dan Amaranggana tak berani menolak.

“Apakah nanti setelah kau di sana, dalam kesunyian itu, masih akan ada sajak yang kau tulis dan kau kirimkan untukku, Bhanu?”
Bhanu menatap lembut Amaranggana, berusaha membalas pertanyaan Amaranggana dengan senyum. Biasanya senyum Bhanu itu menular. Selama ini Amaranggana pasti ikut tersenyum setiap Bhanu memberinya senyum. Kali ini tidak, Amaranggana menahan tangis.

No More Posts Available.

No more pages to load.