Perang Rusia dan Ukraina: Anis Matta Sebut Jalan Pikiran Putin Sulit Ditebak

oleh -73 views
Link Banner

Porostimur.com, Jakarta – Ketua Umum Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia Anis Matta menyebut jalan pikiran Presiden Rusia Vladimir Putin sulit ditebak. Anis menilai konflik antara Rusia dan Ukraina tidak akan selesai dalam jangka pendek. Hal tersebut disampaikan Anis Matta dalam diskusi publik yang digelar Partai Gelora bertajuk “Membaca Akhir Konflik Rusia vs Ukraina dan Bagaimana Posisi Indonesia?”, Rabu (9/3/2022).

Anis mengatakan sebagian besar pihak kemungkinan berpikir bahwa perang ini akan segera diselesaikan Rusia, tetapi kenyataannya tidak. Perang antara Rusia dan Ukraina masih terus berlangsung. Kondisi ini, menurut Anis, mengkonfirmasikan satu hal bahwa tidak ada yang benar-benar mengetahui jalan pikiran Vladimir Putin.

“Kalau kita bicara di atas kertas, perimbangan kekuatan, satu operasi militer dengan skala penuh, mungkin Rusia bisa mengambil alih Ukraina hanya dalam beberapa hari, tetapi kenyataannya tidak terjadi. Mungkin orang berpikir karena kehebatan perlawanan dari Ukraina. Saya berpikir terbalik, itu karena Rusia belum menggunakan seluruh kekuatannya. Itu berarti, dia (Putin) mempunyai rencana yang sampai sekarang belum dipahami orang banyak,” kata Anis Matta.

Baca Juga  Antar longboat, Jamal tak kunjung tiba di Namlea

Oleh karena itu, Anis memprediksikan perang antara Rusia dan Ukraina tidak akan selesai dalam jangka pendek. Hal itu terlihat dari jumlah pengungsi yang dalam kurun waktu 12 hari sudah mencapai 2 juta orang. Angka ini akan terus bertambah, dan tidak ada yang bisa memprediksi pertambahan angka pengungsi. Bisa saja mencapai 5 hingga 6 juta.

“Kalau kita bicara angka 5 juta, itu sama dengan Singapura (jumlah penduduknya). Artinya, itu sendiri akan menjadi satu masalah kemanusiaan, masalah politik yang luar biasa besarnya. Ini berarti, bahwa konflik ini tidak akan selesai dalam jangka pendek,” kata Anis.

Masalah lain yang timbul, menurut Anis, eskalasi sanksi ekonomi yang diberikan Rusia terus meningkat. Terakhir, sanksi penghentian impor minyak dari Rusia oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden.

Dengan memasukkan Rusia ke dalam daftar sanksi, Anis menyatakan sama saja dengan satu pernyataan perang bagi seluruh pihak yang menetapkan sanksi. Kondisi sanksi ini mendekati situasi point of no return atau titik tidak bisa kembali. Dengan begitu, eskalasi sanksi ini akan menyebabkan konflik terjadi bukan hanya antara Rusia dengan Ukraina, tetapi juga Barat.

Hal ini terlihat dari makin banyak pihak-pihak yang terlibat. Misalnya, seperti melibatkan internasional fighter, termasuk suplai senjata terus-menerus yang dilakukan AS dan Eropa kepada Ukraina.

Baca Juga  Kembalikan kejayaan Banda Naira, pemerintah gelar smart talkshow

“Ini mungkin menurut saya menjadi salah satu alasan mengapa Putin tidak segera mengambil alih Ukraina. Dia ingin menciptakan masalah yang lebih besar lagi terlebih dahulu. Karena menurut dia, ini bukan konflik dengan Ukraina. Ini konflik dengan Barat, akibat ekspansi yang terus-menerus dilakukan oleh NATO,” terang Anis Matta.

“Jadi, ini seperti usaha untuk mencekik dia dan ini adalah cara dia melawan cekikan dari NATO secara keamanan. Karena itu, persoalan refugee (perlindungan pengungsi) ini, akan menjadi masalah bagi negara-negara yang selama ini terlibat menekan atau memojokkan Rusia,” tutur Anis.

Anis mengatkan dalam tiga kali perundingan Ukraina dan Rusia, tidak ada hasil sama sekali. Konflik ini akan terus memanjang yang mengakibatkan sendi-sendi tatanan global yang lama akan hancur. Tatanan global yang dibangun setelah perang dunia II, semuanya mengalami disfungsi mulai dari institusinya, sistemnya sampai hubungannya. Kemudian, muncul tatanan dunia baru.

Baca Juga  Kota Ambon Masih di Zona Oranye Covid-19

Sayangnya, Anis mengatakan perang dua negara ini menghasilkan residu dan dampak kepada Indonesia. Anis menilai dampaknya tidak hanya dapat dilihat dari sektor ekonomi yang dilihat dari sisi hubungan bilateral Indonesia-Rusia dan Indonesia-Ukraina.

“Kita punya dua masalah besar disini. Pertama, adalah energi. Karena kita mengimpor minyak kira-kira 500.000 barel per hari. Sekarang kita sudah menyaksikan kenaikan harga BBM di mana-mana. Dampaknya, ke sektor energi kita akan naik semuanya,” kata Anis.

Kedua, menurut Anis, harga pangan yang melambung tinggi, karena Indonesia adalah negara dengan tingkat keamanan yang relatif rapuh. Beberapa komponen dari sembako masih diimpor dari negara lain. Kenaikan apa pun dari sektor pangan, akan berpengaruh terhadap harga pangan ke depan.

“Jadi, di sini kita mendapatkan residu itu. Sementara, konfliknya terbuka. Tidak ada yang bisa membuat satu skenario yang fix sekarang ini akan ke mana arahnya. Semua kemungkinan bisa terjadi,” kata Anis Matta. (red/beritasatu)