Sementara itu, ibu berkutat dengan laptop. Sepertinya, ibu sedang membuat materi. Bukankah besok hari Minggu? Perlahan aku mendekat. Kulihat layar laptop. Ibu tidak menyiapkan materi pelajaran siswanya. Ibu menoleh. Kembali menatap lurus layar laptop. “Besok ibu presentasikan usaha kita di depan investor. Doakan ibu, ya! Kalau berhasil ibu dapat tambahan modal usaha dan pembinaan dari ahlinya,” ucap ibu.
“Pasti, Bu. Semoga semua lancar,” jawabku.
Ibu selalu bilang bahwa kami harus punya usaha. Ibu tak selamanya mengajar. Suatu saat ibu pasti digantikan oleh guru yang lebih muda dan energik. Ketika saat itu tiba, harapan ibu usaha kami bisa menopang kebutuhan hidup kami. Bila kami adalah alasan ibu bertahan, maka ibu adalah sumber kekuatan. Tempat kami pulang tapi bukan tempat kami bergantung karena kami harus bisa mandiri. (*)










