Pulang

oleh -383 views

Banyak hal yang harus kami ubah. Ibu terlihat lebih tegas dan tidak lagi mentolerir segala bentuk ketidaksesuaian. Sebenarnya sederhana. Taruh handuk basah di kasur, gantung seragam sepulang sekolah, meletakkan sepatu di rak, dan semua hal yang berhubungan dengan milik pribadi. Kami memang kadang-kadang mengabaikan hal itu. Berulang kali ibu memperingatkan kami tetapi ibu pula yang akhirnya membereskannya.

Namun, ibu menjadi lebih sabar dan irit bicara. Aneh bukan? Kami lebih takut bila ibu mendiamkan kami. Pernah suatu kali ibu tidak berbicara denganku selama dua hari hingga akhirnya aku mengakui kesalahan dan minta maaf dengan sungguh-sungguh. Masih jelas dalam ingatanku, sore itu ibu menghadiri seminar. Ibu menelponku untuk mengangkat jemuran. Aku terlalu asik bermain game. Saat ibu datang, jemuran masih di luar. Beberapa potong pakaian jatuh berserakan. Harusnya ibu marah besar. Ternyata dugaanku salah. Ibu mendiamkanku. Rasanya nggak enak banget. Saat Alena dan Aisya bercanda sama ibu, aku dianggap tak ada. Kalau aku ikutan, ibu menghindar. Mereka ikut-ikutan menyalahkanku. Rasanya pengen nangis.

Baca Juga  Mayau: Bukan Sekadar Bertahan, Kita Berpengharapan di Atas Tanah yang Bergetar

Ibu suka membacakan dongeng untuk Aisya. Kami semua suka karena ibu pandai berganti-ganti suara. Sebenarnya ibu membacakan cerita untuk Alena dan Aisya tetapi diam-diam aku ikut menyimak. Ikut tertawa saat ibu bersuara kecil atau kadang-kadang kaget ketika ibu membentak dengan suara bariton. Biasanya hanya Aisya yang membuat ibu tidak bisa menolak untuk bercerita. Namun, sejak menempati rumah ini, ibu selalu meluangkan waktu untuk bercerita. Mungkin ibu sedang berusaha agar kami tak merasa kehilangan.

No More Posts Available.

No more pages to load.