Semua gagasan tersebut tentu dapat diperdebatkan.
Tidak ada pemikir yang kebal kritik.
Tetapi keberadaan mereka membuktikan satu hal:
Indonesia memiliki kemampuan untuk menghasilkan pemikiran yang berangkat dari persoalannya sendiri.
Yang menjadi persoalan adalah mengapa tradisi semacam itu tidak berkembang menjadi kepercayaan diri epistemologis yang lebih kuat.
Mengapa kita masih lebih sering menjadi konsumen teori daripada produsen teori?
Mengapa pengalaman Indonesia lebih sering menjadi “kasus” untuk menguji teori orang lain daripada menjadi dasar untuk membangun teori sendiri?
Universitas: Dari Pabrik Gelar Menjadi Rumah Pengetahuan
Persoalan ini akhirnya sampai ke universitas.
Universitas seharusnya menjadi tempat sebuah bangsa berpikir tentang dirinya sendiri.
Tetapi universitas dapat kehilangan fungsi tersebut ketika keberhasilan akademik terlalu banyak direduksi menjadi jumlah publikasi, indeksasi, sitasi, ranking, dan berbagai indikator lain.
Sekali lagi, semua itu tidak buruk.
Publikasi penting. Standar internasional penting. Kolaborasi global penting.
Tetapi ada pertanyaan yang lebih mendasar: Apa yang sebenarnya kita ketahui tentang Indonesia yang belum diketahui dunia?
Pertanyaan ini jarang menjadi pusat agenda akademik.
Kita lebih sering bertanya: “Bagaimana penelitian saya dapat diterima jurnal internasional?”










