Sejarah Maulid Nabi Muhammad SAW Lengkap Sosok Pencetusnya

oleh -9 Dilihat

Selain ayat Al-Qur’an, landasan ibadah terkait hari kelahiran Nabi juga merujuk pada hadits shahih. Sebagaimana dikutip Syekh Muhammad Hisyam Kabbani dalam karya Maulid dan Ziarah ke Makam Nabi, Rasulullah SAW pernah ditanya mengenai alasannya berpuasa pada hari Senin. Beliau bersabda:

“Itu adalah hari di mana aku dilahirkan.” (HR Muslim dari Abu Qatadah RA)

Hadits ini dipandang sebagian ulama sebagai acuan pentingnya memperingati hari kelahiran Nabi SAW melalui bentuk peribadatan dan rasa syukur.

Pandangan Lain Perayaan Maulid Nabi

Di sisi lain, terdapat sudut pandang kritis dari sebagian ulama mengenai historisitas peringatan ini. Berdasarkan analisis Dr. K.H. Muhammad Abduh Tuasikal, S.T., M.Sc. dalam karyanya yang berjudul ‘Sejarah Kelam Maulid Nabi’, penelusuran terhadap kitab-kitab tarikh (sejarah Islam) menunjukkan bahwa perayaan Maulid tidak ditemukan pada era awal Islam.

Praktik ini tidak pernah dilakukan oleh generasi sahabat Nabi, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga empat imam mazhab (Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad ibn Hanbal). Padahal, mereka adalah generasi terbaik yang paling mencintai, mengagungkan, serta memahamkan ajaran sunnah Rasulullah SAW.

Baca Juga  Pengukuran Terjadwal Diterapkan di 446 Kantah, BPN Pastikan Layanan Ukur Tanah Maksimal 7 Hari

Menurut pakar sejarah Al-Maqriziy dalam Al-Mawa’izh wal I’tibar, Dinasti Fatimiyyah (Ubaidiyyun) mengadakan hingga 25 jenis perayaan sepanjang tahun. Mufti Mesir Asy-Syaikh Bakhit Al-Muti’iy dalam Ahsanul Kalam menegaskan bahwa pelopor enam perayaan maulid pertama kali adalah Khalifah Al-Mu’izh Lidinillah dari Dinasti Fatimiyyah pada 362 H.

No More Posts Available.

No more pages to load.