Serangan Balasan dan Eskalasi Regional
Serangan tersebut terjadi setelah militer Israel dan Amerika Serikat melancarkan operasi gabungan terhadap Iran. Militer Israel (IDF) dan Angkatan Udara Israel dilaporkan menyasar peluncur rudal balistik serta sistem pertahanan udara Iran dalam beberapa gelombang serangan lanjutan.
Sementara itu, laporan media AS menyebut militer Amerika Serikat melakukan hampir 900 serangan dalam 12 jam pertama operasi tersebut. Seorang pejabat AS yang dikutip Fox News menyatakan Iran menembakkan sekitar 300 rudal dalam periode yang sama.
Selain Israel, sejumlah negara Teluk seperti Uni Emirat Arab, Bahrain, Qatar, Kuwait, dan Arab Saudi juga dilaporkan merasakan dampak ledakan akibat eskalasi konflik tersebut.
Komando Pertahanan Dalam Negeri Israel sebelumnya telah menginstruksikan warga sipil untuk tetap berada dekat tempat perlindungan bom dan membatasi aktivitas di luar sektor-sektor penting.
Ketegangan Kembali Memuncak
Eskalasi ini menandai peningkatan ketegangan kedua antara Israel dan Iran dalam setahun terakhir, setelah konflik 12 hari pada Juni 2025 yang menewaskan 28 warga Israel dan menyebabkan lebih dari 3.000 orang dirawat di rumah sakit.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebelumnya mengindikasikan bahwa operasi militer terbaru bertujuan melemahkan pemerintahan Republik Islam Iran. Netanyahu dalam pidato yang disiarkan televisi menyatakan ingin menciptakan kondisi bagi rakyat Iran untuk “membebaskan diri dari belenggu kediktatoran.”











