Suara yang Masih Terdengar dari Kota Tua

oleh -37 Dilihat

Cerpen Karya: Dino Umahuk

Hujan baru saja berhenti ketika Aldo mendorong pintu sebuah kafe tua di kawasan Kota Tua Jakarta. Bangunannya masih mempertahankan langit-langit tinggi, jendela-jendela besar, serta lantai tegel yang mulai kusam dimakan usia. Di dinding tergantung foto-foto hitam putih Batavia tempo dulu: trem kuda, serdadu berseragam, perempuan berkebaya, dan lelaki Eropa berjas putih yang berdiri tegak dengan tongkat di tangan.

Pelayan meletakkan secangkir kopi tubruk di mejanya.

“Apa lagi yang bisa saya bantu, Mas?”

Arga menggeleng sambil tersenyum.

Ia datang bukan sekadar untuk minum kopi.

Sebagai jurnalis muda asal Ambon, ia sedang menyusun sebuah esai tentang jejak kolonial di Kota Tua. Editor medianya meminta tulisan yang tidak hanya memotret bangunan tua, tetapi juga menghidupkan kembali cerita yang pernah berdiam di balik tembok-tembok itu.

Ia membuka buku catatan.

Baca Juga  Gubernur Hendrik Lewerissa Kukuhkan 28 Paskibraka Maluku untuk Upacara HUT RI ke-81

Namun yang pertama kali datang bukanlah kalimat.

Melainkan bayangan.

**

Aldo memandang keluar jendela.

Di seberang jalan berdiri sebuah gedung tua bercat putih dengan pintu-pintu kayu yang masih kokoh. Entah berapa banyak keputusan pernah diambil di sana. Entah berapa banyak surat dikirim ke Amsterdam, membawa kabar tentang keuntungan rempah dari negeri-negeri yang jauh.

No More Posts Available.

No more pages to load.