Bisa saja kini Bung Rocky tengah bermimpi, bahwa badai sudah reda — padahal langit masih penuh kilat dan ancaman.
Dulu, ia menulis dan apalagi jika berbicara, seolah menjadi nabi rasionalitas. Ia menegakkan akal sebagai benteng perlawanan. Tapi kini, akal sehat itu seperti ditempatkannya di lemari kaca — tersimpan rapi, dipajang untuk dikenang, bukan lagi untuk diperjuangkan.
Dan di titik inilah, gema sajak WS Rendra terdengar begitu relevan. Dalam “Sajak Kenalan Lamaku”, Rendra menulis tentang seorang sahabat lama — pejuang idealis yang dulu gagah menentang ketidakadilan, namun setelah kemenangan datang, berubah menjadi jinak dan nyaman di sisi kekuasaan.
Rendra menulis, Kau telah kehilangan dirimu sendiri di dalam kemenangan yang kau perjuangkan.
Itu bukan sekadar bait puisi, tapi potret manusia yang kalah dalam kemenangan — dan kini, potret itu seolah, maaf, memantul di wajah Bung Rocky.
Ironis memang, di saat bangsa ini sedang butuh suara kritis darinya, tapi ia justru memilih diam.
Padahal, diam seorang yang pernah keras bersuara adalah pengkhianatan yang paling halus — sekaligus paling menyakitkan.
Karena dari seorang yang biasa berteriak terus-menerus akan “akal sehat!”, kita berhak menuntut konsistensi. Bukan kompromi.











