Klaim tersebut tidak seluruhnya dapat diverifikasi secara independen.
Namun, bila dilihat dari perspektif perang modern, persoalannya cukup jelas: keunggulan jumlah kapal dan teknologi tidak otomatis memberikan kebebasan bergerak ketika sebuah armada beroperasi di wilayah yang dipenuhi sistem rudal antikapal, drone dan ancaman asimetris.
Situasi tersebut menjadi tantangan serius bagi konsep proyeksi kekuatan Amerika.
Selama beberapa dekade, kapal induk AS menjadi simbol kemampuan Washington menghadirkan kekuatan militer hampir di mana saja. Tetapi perang dengan Iran menunjukkan bahwa kemampuan untuk menyerang dari laut tidak selalu berarti kemampuan untuk beroperasi dekat dengan wilayah lawan.
Untuk pertama kalinya dalam skala konflik besar sejak era Perang Dunia II, Amerika disebut menghadapi lawan yang mampu memaksa sebagian kekuatan lautnya bertempur dari jarak jauh.
Persoalan lainnya adalah tekanan yang muncul dari lamanya operasi.
Salah satu contoh yang paling banyak disorot adalah USS Abraham Lincoln.
Kapal induk tersebut disebut telah menjalani penugasan lebih dari 270 hari tanpa kunjungan pelabuhan konvensional. Jika angka tersebut akurat, durasi itu menunjukkan tekanan luar biasa terhadap kapal, sistem pendukung, sekaligus ribuan awak yang berada di dalamnya.











