Tenggelam

oleh -88 views
Link Banner

Oleh: Asghar Saleh, Politisi dan Pegiat Sosial

Saya masih terlalu kecil untuk memahami cerita Ayah tentang tenggelamnya kapal Tampomas II di perairan Masalembo akhir Januari 1981. Kapal bekas yang memuat seribuan penumpang itu karam setelah terbakar. Memori saya hanya menyimpan suara-suara dari sebuah kaset yang belakangan dibeli Ayah. Pita coklat panjang dalam kemasan berbentuk segi empat dengan dua roda kecil di tengahnya itu selalu saya putar dan dengar saban malam.

Pengunguman kebakaran oleh Kapten Abdul Rivai, tangisan si kecil Vita yang terpisah dari orang tuanya, teriakan-teriakan panik para penumpang yang bercampur dengan doa-doa yang melirih, debur ombak dan seruan putus asa – semuanya masih membekas seolah-olah saya ada di buritan Tampomas. Saya tak tahu kaset itu hanya “rekaman drama” tentang tragedi kemanusiaan terbesar yang pernah terjadi di laut Indonesia. Sebuah fiksi. Yang saya tahu, kapal itu tenggelam dan hanya menyisakan bilur-bilur duka.

Frasa “tenggelam” dalam ingatan saya kala itu hanya tentang kapal. Tenggelam berarti segala sesuatu yang “masuk” ke dalam laut. Beragam benda mati maupun hidup. Tetapi yang “terbesar” hanya Tampomas. Kala berseragam merah putih, samar-samar saya mendengar cerita tentang kapal besar nan mewah, Titanic yang tenggelam gegara menabrak bongkahan es. Lalu saya mulai membaca roman “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” punya Hamka yang sempat dituding Pramoedya Ananta Toer sebagai jiplakan dari karya Jean Baptiste Alphonse Karr ; Sous les Tilleuls. Tenggelam masih didominasi cerita kapal.

Hingga cerita tentang Atlantis yang misterius, sebuah kota yang hilang dan dilukiskan tenggelam sebagaimana esai Plato dalam “Timaeus” dan “Critias” mengubah saya dan yang “tenggelam” itu. Berabad lamanya perdebatan tentang Atlantis tak pernah surut. Terjebak antara mitos dan sains. Kebenaran berpilin dengan geomitologi – ilmu yang mencermati pengamatan terhadap fenomena alam oleh orang-orang pra literasi. Letak Atlantis yang tenggelam karena gempa dan banjir besar itu menurut Plato ada di sebuah selat. Tak jelas dimana. Berbagai simpulan menyebut laut tengah, laut hitam hingga segi tiga Bermuda sebagai lokasi Atlantis. Belakangan muncul pula temuan “Sunda Land”, sebuah benua gabungan pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia membenarkan temuan itu meski tak menjamin apakah Atlantis ada di situ.

Ilmuwan Brazil, Arysio Nunes Dos Santos yang mengamati kesamaan budaya, luas wilayah, cuaca, kekayaan alam dan sebaran gunung api malah meyakini Atlantis adalah Indonesia dengan poros pada kepulauan Natuna di Riau sebagaimana Ia narasikan dalam bukunya ; “Atlantis, The Lost Continent Finally Found, The Localization of Plato’s Lost Civilization”. Tokh, misteri Atlantis tak terpecahkan. Tetap menjadi sebuah alegori. Bagi saya, Atlantis adalah kota atau pulau yang “tenggelam”. Berbeda dengan kapal.

Baca Juga  Tak Banyak yang Tahu, 4 Seleb ini Pernah Jadi Jurnalis

Banyak literatur sains yang menyebut penyebab utama dari “tenggelamnya” sebuah daratan entah kota atau pulau disebabkan oleh kenaikan permukaan air laut. Tentunya selain dampak dari bencana geologi. Kita mungkin percaya jika kenaikan air laut itu akan berimplikasi pada bencana bagi kemanusiaan di abad ini. Tetapi sebenarnya, permukaan air laut telah naik sejak 15.000 tahun lalu ketika berakhirnya zaman es. Es di daratan yang mencair mengakibatkan permukaan air laut naik sekitar 120 meter antara sekarang dan saat itu. Fenomena ini akan terus berlangsung sepanjang kita tak berhenti “merusak”.

Ironisnya, kita selalu memposisikan diri sebagai penonton. Mirip dalam bioskop, kita mengamati dengan sendu kematian spesies akibat pemanasan global, terumbu karang yang rusak, pantai yang makin digigit abrasi dan pulau-pulau yang hilang dalam sunyi. Kita jadi lupa bahwa kita ada dalam film itu. Mengalami segala kengerian bersama hewan yang mati dan kerusakan alam yang kita produksi. John Ruskin – sosiolog Inggris – menyebut dalam anomali perubahan iklim, kita masih terjebak dalam : “Sesat pikir menyedihkan”.

Laut akan jadi pemusnah yang masif dan sistemik jika kita tak berhenti “memanaskan” bumi. Saat ini, rata-rata kenaikan permukaan air laut menyentuh angka 1,2 meter dan bisa mencapai 2,4 meter pada akhir abad ini. Statistik ini membuat kita terlena dan berpikir ; masih butuh waktu yang lama. Kenaikannya juga hanya satu-dua meter. Sebuah kekeliruan. Karena kenaikan permukaan air laut berbanding lurus dengan bertambahnya emisi gas rumah kaca. Pembakaran hutan, penggunaan bahan bakar minyak bumi dan batubara yang berlebihan dan pencemaran laut adalah beberapa di antara tindakan manusia yang mempercepat peningkatan gas rumah kaca. Bumi makin panas. Perubahan iklim memberi efek domino yang ajek.

Lembaga Antariksa Amerika sudah merilis pernyataan bahwa satu-dua meter yang menaik itu hanya batas bawah. Pada 2018, satu penelitian besar mendapati fakta jika efek pemanasan global membuat laju pelelehan es di Antartika mengalami kenaikan tiga kali lipat dalam satu dekade terakhir. Antara tahun 1992-1997, lapisan es di Antartika kehilangan sekitar 49 miliar ton es setiap tahun. Angka ini melonjak fantastis pada periode 2012-2017, dimana lelehan es mencapai 219 miliar ton.

Baca Juga  Polda Maluku Gelar Ujian Akademik Naskah Karya Perorangan

Perubahan iklim yang terjadi selalu dikuasai ketidakpastian. Sebagian besar ketidakpastian itu ada pada tindakan manusia. Tindakan apa yang akan dilakukan dan kapan tindakan itu – untuk mencegah atau setidaknya menunda perubahan drastis kehidupan di planet ini. “Jenis adaptasi yang paling efektif adalah yang berbasis lokal. Jika anda kembali ke 7000 tahun yang lalu, anda dapat melihat bahwa orang-orang mengambil tindakan secara lokal dan mereka percaya kemanjurannya, mereka menginisiasi sendiri dan tidak menunggu instruksi dari tempat lain”. begitu pendapat Patrick Nunn, Professor Geografi di University of The Sunshine Coast yang juga menulis buku ; “World in Shadow, Submerged Lands in Science, Memory And Myth”.

Sayangnya adaptasi yang lokal itu mulai dilupakan. Hutan bakau yang bisa mencegah abrasi, kini hanya ditemukan di majalah-majalah lingkungan dalam bentuk foto yang suram. Kita menggantungkan harapan pada kemajuan sains yang justru kerap dibungkam perbedaan pandangan. Asumsi dan proyeksi tentang apa yang sebaiknya dilakukan kadang terbungkus keraguan. Sarat dengan kepentingan politik dan ekonomi. Dan netra kita dipaksa menatap air laut yang makin menyesaki pantai dan daratan. Kita hanya memahami penyebab kenaikan permukaan air laut karena lelehan es tapi kita gagal “membatasi” penyebab utama benua es itu meleleh.

Dua tahun lalu, saya mengunjungi sebuah desa pantai di pesisir Sahu, Halmahera Barat. Kenaikan air laut dalam periode puluhan tahun membuat warga terpaksa memindahkan rumah mereka ke dataran yang lebih tinggi. Kantor desa dan sebuah gedung Pustu tak lagi bisa digunakan karena sudah tergenang air laut. Garis pantai hilang puluhan meter. Cerita yang sama saya dapati ketika mengunjungi Kecamatan Batang Dua, Kota Ternate. Dulu, ketika para tetua suku Wayoli pertama kali datang, Pulau Tifure dan Gurida masih “satu”. Karenanya pemukiman warga ada di Tifure dan kebun-kebun mereka ada di Gurida. Mereka berjalan kaki di atas hamparan pasir setiap hendak berkebun. Saat ini, kedua pulau itu telah terpisah oleh selat dengan kedalaman air laut sekitar tiga meter. Warga harus berperahu ketika akan ke kebun mereka di pulau Gurida.

Machmud Ichi, jurnalis yang getol mengabarkan kerusakan lingkungan dan memotret nasib pulau-pulau kecil memberi saya informasi yang sama. Di Maluku Utara, ada beberapa pulau kecil yang terkena dampak abrasi serius dan diperkirakan akan tenggelam jika kenaikan permukaan air laut makin menggila beberapa dekade mendatang. Pulau-pulau itu antara lain, pulau Lelei di Kayoa Halmahera selatan, pulau Kolorai dan pulau Tabailenge di Morotai serta pulau Pagama di Kepulauan Sula.

Baca Juga  Jelang HUT RMS, Tujuh Bekas Anggota FKM Nyatakan Gabung NKRI

Greenpeace memperkirakan Jakarta – pusat pemerintahan negara dan sentra ekonomi yang tak pernah tidur itu akan menghadapi ancaman ganda dari kenaikan permukaan laut. Saat ini hampir 17 persen dari total luas daratan Jakarta berada di bawah permukaan air laut. Dengan laju penurunan muka tanah yang berada pada level mengkhawatirkan dimana setiap tahun terjadi penurunan sekitar 7 – 12 cm, ancaman tenggelam kian nyata jika berkombinasi dengan siklus banjir besar sepuluh tahunan pada 2030. Kajian ini yang dipakai Presiden Joe Biden saat berpidato tentang perubahan iklim di kantor CIA akhir juli kemarin. Biden menyebut Jakarta akan tenggelam sepuluh tahun lagi.

Biden lupa jika ancaman “tenggelam” itu telah jadi sesuatu yang universal. Negara Karibati di pasifik mulai memindahkan penduduknya ke Selandia Baru karena puluhan pulau di negara itu telah “hilang”. Begitu pula negara Tuvalu dan beberapa kawasan pesisir di India. Dalam buku “The Water Will Come”, Jeff Goodell membahas tentang ancaman yang mengintai beberapa monumen, kebudayaan dan entitas peradaban yang akan berubah menjadi penghuni dasar laut. Yang “tenggelam” itu akan mengubur Kantor pusat Faceebook, Kennedy Space Center, markas AL Amerika di Norfolk Virginia, seluruh daratan negara Maladewa, sebagian besar Bangladesh, Pantai Miami dan sebagian Florida, Basilika San Marco di Venesia Italia hingga Gedung Putih di 1600 Pennysilvania Avenue.

Daftar ini masih sangat panjang menyentuh berbagai kota dan pulau termasuk Jakarta yang diramalkan tenggelam seluruhnya pada tahun 2050. Indonesia saat ini telah kehilangan 24 pulau yang hilang direndam air laut. Kementerian Kelautan dan Perikanan menyebut, ancaman lebih serius diperkirakan terjadi tahun 2030, dimana kita akan kehilangan sekitar dua ribu pulau. Sebagian besar dari yang terancam tenggelam itu ada di Maluku dan Maluku Utara, Sumatera dan Sulawesi.

Jika Jakarta tenggelam, sejarah seperti memutar ulang kisah Sunda Land. Sebuah déjà vu. Dan kita hanya bisa menunggu. Para ahli iklim melempar satire, “Planet ini akan bertahan, Manusia mungkin tidak”. (*)