Jika generasi mereka takut bertanya, Indonesia mungkin tidak pernah lahir.
Karena itu, tidak ada alasan bagi generasi hari ini untuk takut mendiskusikan federalisme.
Diskusi tidak sama dengan deklarasi.
Perdebatan tidak sama dengan pemberontakan.
Dan gagasan tidak sama dengan tindakan politik.
Kita boleh tidak setuju dengan federalisme.
Tetapi kita tidak perlu takut mendengarnya.
Sebab mungkin yang sedang mengetuk pintu bukan federalisme itu sendiri.
Mungkin yang sedang mengetuk adalah rasa kecewa daerah terhadap cara kekuasaan bekerja.
Ternate Tidak Sedang Memanggil Masa Lalu
Ternate hari ini tentu bukan Ternate pada zaman Jabir Syah.
Dunia sudah berubah. Indonesia sudah berubah. Struktur pemerintahan sudah berubah. Ekonomi, teknologi, geopolitik dan cara manusia berkomunikasi juga telah berubah.
Karena itu, tidak bijaksana jika kita menghidupkan kembali gagasan lama secara harfiah.
Yang perlu kita hidupkan adalah keberanian berpikirnya.
Jabir Syah tidak harus dijadikan ikon federalisme.
Ia lebih pantas ditempatkan sebagai bagian dari tradisi intelektual Maluku Utara yang berani membayangkan Indonesia dengan cara yang berbeda.
Sebab sejarah tidak selalu meminta kita mengulang masa lalu.
Kadang sejarah hanya meminta kita belajar mendengar suara yang pernah kita abaikan.










