Menurut perhitungan Associated Press, sejak awal konflik Iran telah menembakkan sedikitnya 380 rudal dan lebih dari 1.480 drone ke lima negara Teluk Arab. Serangan tersebut menewaskan sedikitnya 13 orang.
Salah satu serangan paling mematikan terjadi di Kuwait, ketika enam tentara Amerika tewas akibat drone Iran yang menghantam pusat operasi militer di pelabuhan sipil.
Dalam pengarahan tertutup kepada anggota Kongres, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Dan Caine bahkan mengakui bahwa Amerika Serikat kesulitan mencegat gelombang drone Iran, terutama jenis Shahed.
Serangan drone juga dilaporkan menyasar fasilitas diplomatik Amerika, termasuk kebakaran kecil di kedutaan besar AS di Riyadh serta di luar konsulat AS di Dubai.
Risiko Perang Regional Semakin Besar
Situasi ini memunculkan kekhawatiran bahwa konflik dapat berkembang menjadi perang regional yang lebih luas.
Analis dari Chatham House Bader Mousa Al-Saif, menilai Amerika Serikat kemungkinan meremehkan risiko yang harus dihadapi negara-negara Teluk.
“Saya rasa mereka tidak melihat bahwa akan ada banyak risiko bagi negara-negara Teluk,” katanya.
Sementara itu, mantan duta besar AS untuk Arab Saudi Michael Ratney, menilai negara-negara Teluk berada dalam posisi yang sangat sulit.









