Cerpen Karya: Julia F. G. Arungan
Laila mengecek mesin cuci bukaan depan di hadapannya. Sisa waktu tinggal sepuluh menit lagi sebelum pakaiannya selesai dicuci. Di bagian ujung ruangan, empat mesin pengering berukuran jumbo meneteskan sisa-sisa air di kaca-kacanya yang cembung.
Laila terpaksa menempuh empat puluh menit perjalanan dengan bus untuk mencapai self-serviced laundromat terdekat dan termurah. Ia hanya mampu menyewa satu kamar tanpa mesin cuci di flat yang murah dan banyak kecoaknya. Di musim panas ia terpaksa membawa pulang cucian setengah kering dari laundromat dan menjemurnya di balkon. Tapi di musim dingin seperti sekarang, menjemur pakaian bisa dua tiga hari lamanya.
Hanya ada sedikit bacaan di tempat itu. Satu-dua majalah tentang mobil-mobil antik dan Harley Davidson, dan beberapa bacaan bertema taman dan kebun yang sudah tuntas dibacanya sejak pertama kali ke sana. Setidaknya mereka menyediakan satu unit televisi, meskipun kadang hilang siarannya dan diganti dengan garis-garis berbintik di layar.
Sesekali Laila akan menonton berita dan membolak-balik majalah tentang taman itu. Kali ini berita di televisi menyebutkan tentang pertandingan kriket dan bagaimana stadion gegap gempita menyambutnya.










