Kondisi akses yang sulit juga berdampak terhadap harga kebutuhan pokok karena biaya distribusi menjadi lebih tinggi.
Warga Tak Ingin Lagi Hanya Mendengar Janji
Di usia Indonesia yang ke-81, warga Ahiolo berharap pembangunan tidak berhenti sebagai wacana. Mereka menginginkan kepastian mengenai kapan jalan yang menjadi urat nadi kehidupan mereka dapat dibangun atau ditingkatkan.
Marce menegaskan, masyarakat tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya menginginkan akses dasar agar dapat hidup, bekerja dan berkembang sebagaimana masyarakat Indonesia lainnya.
“Katong tidak minta yang macam-macam. Katong hanya mau jalan. Jalan itu kebutuhan dasar bagi katong,” katanya.
Ia berharap pemerintah daerah, Pemerintah Provinsi Maluku dan pemerintah pusat dapat duduk bersama mencari solusi. Jika pembangunan membutuhkan anggaran besar atau menyangkut kewenangan lintas pemerintahan, menurutnya, hal itu justru membutuhkan sinergi, bukan alasan untuk membiarkan persoalan berlarut-larut.
Di tengah perayaan kemerdekaan, suara warga Ahiolo pun kembali menggema.
“Indonesia sudah 81 tahun merdeka, tetapi katong masih menangis karena belum ada akses jalan yang layak. Kapan katong benar-benar bisa merasakan kemerdekaan?” ujar Marce.
Pertanyaan itu bukan penolakan terhadap kemerdekaan. Sebaliknya, itu adalah bentuk harapan agar makna kemerdekaan benar-benar hadir hingga ke pelosok negeri.











