Al-Quds: Antara Salahuddin, Mazhab dan Zionis

oleh -1,127 views
Fazwan Wasahua

Lalu apa yang kita lakukan hari ini? Kita mengangkat namanya, tapi melawan semangatnya. Kita mengutip kisahnya, tapi mengkhianati teladannya. Kita gunakan Salahuddin bukan sebagai simbol persatuan, tapi pembenaran sektarianisme.

Sementara itu, Gaza terbakar. Anak-anak terpanggang di tenda pengungsian. Dan kita masih sibuk berdebat tentang fiqh warisan. Kita masih takut berjalan bersama Iran karena mereka bukan dari golongan kita. Kita masih terlalu sibuk mencurigai, dan lupa bahwa kemanusiaan tak menuntut kesamaan mazhab.

Mungkin sudah waktunya kita membaca sejarah dengan cahaya nurani, bukan bara kebencian. Karena jika tidak, kita akan terus hidup dalam mitos yang membelenggu. Mitos bahwa kebenaran hanya milik satu mazhab, bahwa perjuangan hanya sah jika datang dari yang “murni”, bahwa kemenangan hanya mungkin setelah pengkhianatan terhadap saudara sendiri.

Baca Juga  Kembali Terlibat Kecelakaan, Anggota DPRD Tual Diduga Alihkan Tanggung Jawab

Dan dalam diam yang panjang itu, kita pun menjauh. Bukan dari musuh, tapi dari sesama. Bukan dari kebatilan, tapi dari kesempatan untuk benar-benar berjuang bersama.

Dalam sejarah yang kita pelintir, Salahuddin menang setelah memersatukan. Tapi dalam kenyataan hari ini, kita kalah karena terus bermusuhan.

Israel tidak peduli apakah kita Syiah atau Sunni. Apakah arab atau ‘ajam. Mereka hanya peduli satu hal: kita terpecah. Dan selama itu terjadi, Al-Quds akan tetap terkunci. Bukan oleh Syiah, tapi oleh keangkuhan kita sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.