Dagang Sapi dan Toxic Positivity

oleh -352 views

Ide kekuasaan terbatas ini bukan ide baru. Pada jaman Orde Baru, ide inilah yang ditubuhkan ke dalam rejim otoriter itu. Tidak ada oposisi. Semua persoalan diselesaikan antar ‘jape methe’ tadi. Orang-orang yang berada diluar sistem itu harus diberangus, tidak punya legitimasi, dan bila perlu dibuang ke penjara atau dipaksa mengambil pengasingan di luar negeri. 

Mengapa ini terjadi? Seorang teman lain dari dunia akademis mengamati apa yang terjadi pada kampanye pemilihan umum kemarin. Tahun 2024 ini sangat berbeda dengan 2014, dan terutama 2019, yang dipenuhi oleh ujaran kebencian (hate speech). Rakyat dipecah belah antara dua kubu. 

Tahun 2024, taktik politik yang dipakai adalah dengan menyemburkan ‘energi positif.’ Pemenang tidak lagi menyemburkan kebencian. Dia tidak menggebrak podium, melainkan joged-joged. Slogan politik menjadi riang gembira. 

Baca Juga  Mahasiswa Soroti Minimnya Ambulans Laut di Ternata

Namun, dibalik itu prosesnya sangat brutal dan kotor. Dipermukaan sangat ‘glowing,’ positif, dan riang gembira. Akademisi ini menyebutnya dengan istilah yang sangat akrab untuk para Gen X-ers, yakni “toxic positivity.” 

Para elit kita sekarang berusaha keras untuk membangun optimisme dalam bentuknya yang paling ekstrem, yang bentuknya tampak sangat santun dan beradab dalam segala suasana. Mereka mengklaim melakukan yang terbaik, menjadi pemersatu ketimbang pemecahbelah, pendamai ketimbang pembuat konflik, dan sebagainya. 

No More Posts Available.

No more pages to load.