“Kita sedang berbicara tentang kehidupan. Sampah yang kita hasilkan di rumah dapat berakhir di lingkungan, sungai, pesisir, bahkan laut. Dampaknya bukan hanya terhadap kebersihan, tetapi juga kesehatan, ekosistem, sumber penghidupan, dan masa depan anak-anak kita,” ujar Dinul.
Karena itu, ia mendorong peserta menjadikan pengetahuan yang diperoleh dalam ToT sebagai aksi nyata.
Dinul mengingatkan, keberhasilan pelatihan tidak diukur dari sertifikat yang dibawa pulang, melainkan dari perubahan kebiasaan yang terjadi setelah peserta kembali ke lingkungan masing-masing.
“Jangan sampai setelah mengikuti ToT, kita pulang membawa sertifikat tetapi tidak membawa perubahan. Pulanglah membawa pengetahuan, keterampilan, dan terutama komitmen untuk melakukan sesuatu. Mulailah dari rumah,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya peran perempuan dan pemuda dalam membangun gerakan lingkungan. Para peserta diharapkan mampu mengajak keluarga, kelompok keagamaan, pemuda hingga masyarakat luas untuk memilah, mengurangi dan memanfaatkan kembali sampah.
Sabatang Jadi Contoh, Sampah Bisa Bernilai
Camat Bacan Timur, Niar Barakati, S.H., memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Menurutnya, masyarakat Sabatang telah memiliki pengalaman dalam mengembangkan pengelolaan sampah.
Kreativitas kelompok PKK bahkan terlihat dari berbagai produk yang dihasilkan dari barang-barang yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
“Di depan kita ini sampah-sampah yang kita buang dimanfaatkan oleh ibu-ibu PKK menjadi maha karya. Ini sangat luar biasa,” ujar Niar.
Ia menyebut Kecamatan Bacan Timur memiliki 10 desa. Sementara Desa Sabatang pernah meraih juara pertama dalam ajang pengelolaan sampah pada 2022 dan mewakili Maluku Utara.
Pengalaman tersebut dinilai dapat menjadi modal bagi Sabatang untuk terus mengembangkan pengelolaan sampah sekaligus berbagi praktik baik dengan desa-desa lainnya.









