Kita tahu bahwa Prajogo Pangestu juga melakukan take-over atas industri serupa di Sidangoli, Halmahera Barat, yang tadinya adalah milik korporasi Singapore, PT. Pan Tunggal Agathis. Pan Tunggal ini juga adalah kelanjutan dari PT. Kora-Kora atau PT. Braha pada akhir tahun 1970-an, milik seorang pengusaha lokal Bram Haji Ambarak Buamona (Braha).
Sekarang kawasan tersebut menjadi pemukiman rakyat eks karyawan PT. Braha yang dikenal dengan nama Dusun Braha 1 dan Braha 2. Namun arus besar perdagangan ini, mulai redup, setelah krisis moneter global pada tahun 1998 yang menandai runtuhnya Orde Baru tersebut.
Hingga kini, kita masih menemukan jalan di Desa Falabisahaya, yang mengabadikan nama
Filipina, seperti Benegas dan Tolentino, dua orang Filipina yang pertama masuk ke Sula pada tahun 1969. Karena merekalah yang awal membangun base-camp dan log-pond untuk
industri loging tersebut. Termasuk Mr. Engineer Playu, yang membangun base-camp dan logpond di Desa Waikalopa (sekarang menjadi pelabuhan Pertamina).
Kepulauan Sula, Jalan Panjang Menuju Kabupaten
Adapun gagasan menjadikan Kepulauan Sula sebagai Kabupaten di Maluku Utara, menelusuri dokumen yang ada, sejak tahun 1962, Sula telah mencatat akan hal ini. Seiring perjuangan pembentukan Provinsi Maluku Utara sejak tahun 1957, hingga tahun 1967, masyarakat Sula selalu berpartisipasi aktif dalam perjuangan mewujudkan Maluku Utara sebagai provinsi definitif.









