Ketika Bola Berlari di Atas Tambang: Malut United FC dan Jejak Oligarki Baru di Timur

oleh -1,810 views

“David tak bisa dilihat sekadar sebagai investor. Ia bagian dari ekosistem politik-tambang yang selama ini mencengkeram Maluku Utara,” ungkap seorang sumber internal di Pemprov Maluku Utara yang enggan disebutkan namanya.

Antara Cita-cita Anak Muda dan Realitas Politik

Kini, Malut United FC berada di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Di dalam stadion, anak-anak muda bermimpi menjadi pemain profesional. Namun di luar pagar stadion, warga Halmahera Timur dan Halmahera Tengah mulai mengeluhkan dampak pembukaan tambang: pencemaran sungai, konflik lahan, dan perubahan ekosistem.

Salah satu tokoh adat di wilayah Foli mengatakan kepada redaksi: “Dulu kami tanam pala dan cengkih. Sekarang banyak tanah sudah digali. Waktu demo, perusahaan kasih uang, atau disuruh ke stadion nonton bola. Tapi tanah kami hilang.”

Baca Juga  PM Belanda Minta Maaf atas Perlakuan terhadap Komunitas Maluku di Negeri Kincir Angin

Malut United FC memang membangkitkan semangat identitas Maluku Utara. Namun, saat dana klub masih menjadi misteri, dan pemiliknya tersangkut jejak dugaan korupsi serta monopoli tambang, maka pertanyaan yang harus diajukan adalah: Apakah klub ini lahir dari aspirasi rakyat, atau dari ambisi kuasa yang ingin membungkus diri dengan baju sepak bola?

Bola dan Tambang Harus Dipisah

Kisah Malut United FC mencerminkan babak baru dalam sepak bola Indonesia—di mana uang tambang, konflik agraria, dan politik lokal terjalin erat. Jika tak ada transparansi soal sumber dana, struktur kepemilikan klub, dan hubungan dengan perusahaan tambang yang sedang disorot KPK, maka sepak bola bisa kehilangan maknanya sebagai olahraga rakyat.

No More Posts Available.

No more pages to load.