Sepak bola seharusnya membebaskan, bukan menutupi. Dan klub seperti Maluku Utara United layak diaudit secara moral, bukan hanya secara teknis.
Sebab sepak bola adalah harapan kolektif, tempat anak-anak muda menggantung cita-cita, bukan panggung untuk menyamarkan dosa korporasi. Jika klub seperti Malut United FC dibangun di atas kerusakan lingkungan, praktik suap, dan monopoli tambang, maka kemenangan di lapangan tak akan mampu menebus penderitaan masyarakat di sekitar wilayah konsesi.
Di Liga 1 Indonesia, Malut United FC mungkin akan mencetak gol demi gol dan menorehkan kemenangan demi kemenangan. Tapi sejarah akan bertanya: dari mana semua ini dibangun, dan siapa yang membayar harga sesungguhnya? (Tim)
Simak berita dan artikel porostimur.com lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel porostimur.com











