Maluku Utara, dari Nikel sampai Penjualan Pulau

oleh -10 Dilihat

Maluku Utara sudah kenyang dengan pengerukan sumber daya alam, mulai dari rempahnya yang dibawa ke luar negeri dan hanya menyisakan kemiskinan bagi rakyatnya. Sebab, kolonialisme hanya memikirkan keuntungan diri dan golongan ketika itu, sehingga tidak perlu memperhatikan nasib rakyat Maluku, dimana emas rempah itu menghidupkan ekonomi hampir di seluruh negara Eropa.

Hanya praktik zaman kolonial, yang mengeruk harta kekayaan alam tanpa memikirkan dimana kekayaan alam itu bersumber.

Kalau pengelolaan sumber daya alam hanya sebatas urusan kontrak, siapa bilang kolonialisme tidak menggunakan kontrak untuk menguasai wilayah dan kekayaan pribumi. Semua itu hanya prosedur pemanis, tetapi sejatinya adalah eksploitasi sumber daya alam tanpa melibatkan rakyat sekitar yang secara turun-temurun hidup damai dengan daerahnya.

Baca Juga  Mourinho Kembali, Mbappe Yakin Real Madrid Akhiri Puasa Trofi Musim Ini

Negara tidak boleh mengabaikan rakyatnya untuk menguasai kekayaan alam, sementara di satu sisi seolah masyarakat lokal tidak ada, sehingga semuanya boleh dikeruk dan dibawa tanpa mengajak masyarakat lokal.

Kalau ini yang terjadi, maka bukan praktik bernegara yang diterapkan tetapi praktek perampokan sumber daya alam, dengan menjadikan negara sebagai tameng untuk kepentingan segelintir orang yang menguasai negara ini.

No More Posts Available.

No more pages to load.