Hakikat ibadah haji sejatinya dapat dirasakan ketika seseorang mampu memahami hakikat dirinya di hadapan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda:
الْحَجُّ عَرَافَةُ (رواه ابن ماجة و الترميذي والنسائ وابو داود وأحمد)
“Haji adalah (wukuf) di Arafah.” (HR. Ibnu Majah, Tirmidzi, Nasa’i, Abu Dawud, dan Ahmad)
Padang Arafah juga menjadi tempat penuh sejarah bagi para nabi. Di tempat inilah para nabi dahulu bermunajat dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa Nabi Adam AS dan Siti Hawa bertemu kembali di Arafah setelah diturunkan ke bumi.
Di tempat ini pula Nabi Ibrahim AS semakin yakin bahwa perintah menyembelih putranya, Nabi Ismail AS, benar-benar merupakan wahyu dari Allah SWT.
Oleh karena itu, pencapaian terbesar seorang hamba saat berhaji sering kali diukur dari bagaimana ia menjalani wukuf di Arafah. Ketika seseorang mampu menemukan hakikat kehambaannya, ia akan tunduk dan bersimpuh di hadapan kebesaran Allah SWT.
Ritual wukuf juga mengandung pesan penting agar manusia mau berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dunia.
Dalam kehidupan yang penuh kesibukan, manusia memerlukan waktu untuk menenangkan diri, merenung, mengevaluasi perjalanan hidup, dan merencanakan masa depan dengan lebih baik.










