Oleh: Yusuf Blegur, Kolumnis
Lebih tepatnya bangsa Indonesia telah lama kehilangan kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan. Apakah pantas merayakan kemerdekaannya bahkan sehari setelah proklamasi dikumandangkan hingga setelah delapan puluh satu tahun lamanya
Di tengah euforia dan gegap gempita negara merayakannya. Ada baiknya bangsa ini menyusuri lebih dalam makna kemerdekaan RI ke-81 tahun dan jika memang patut dirasionalisasikan dengan realitas kekinian. Sepertinya penting dan mendesak dirasa untuk segenap rakyat dan tumpah darah Indonesia menyimak percakapan Tan Malaka di hadapan Soekarno, Mohamad Harta, dan KH. Agus Salim, sewaktu lima bulan lebih dari dicetuskannya Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, yang patut menjadi refleksi dan evaluasi agar bisa memahami republik ini seutuhnya.
Adapun ucapan Tan Malaka di hadapan para “the founding fathers” itu sbb:
MERDEKA 100%
“Kepada kalian para sahabat, tahukah kalian kenapa aku tidak tertarik pada kemerdekaan yang kalian ciptakan. Aku merasa bahwa kemerdekaan itu tidak kalian rancang untuk kemaslahatan bersama. Kemerdekaan kalian diatur oleh segelintir manusia, tidak menciptakan revolusi besar. Hari ini aku datang kepadamu, wahai Sukarno sahabatku Harus aku katakan bahwa kita belum merdeka, karena merdeka haruslah 100 persen. Hari ini aku melihat bahwa kemerdekaan hanyalah milik kaum elite, yang mendadak bahagia menjadi borjuis, suka cita menjadi ambtenaar…kemerdekaan hanyalah milik kalian, bukan milik rakyat.











