Narasi “Maluku Merdeka” di Media Sosial Disorot, Pemerintah Diminta Perkuat Kesejahteraan

oleh -34 views
Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah, mengatakan pemerintah perlu melihat fenomena tersebut secara proporsional dengan membedakan antara ekspresi individu, kritik sosial, provokasi digital, dan narasi yang memang terhubung dengan jaringan terkoordinasi.

Dalam konteks tersebut, media sosial menjadi salah satu arena penting untuk memengaruhi persepsi publik.

Amir menilai Maluku memiliki posisi strategis karena berada di kawasan kepulauan yang menghubungkan jalur pelayaran dan perdagangan di kawasan Indo-Pasifik. Selain itu, Maluku memiliki potensi besar di sektor perikanan, kelautan, energi, mineral, serta pariwisata bahari.

Posisi geografis dan potensi sumber daya tersebut membuat dinamika sosial, ekonomi, dan politik di Maluku memiliki arti penting dalam konteks geopolitik kawasan.

“Dalam kajian geopolitik modern, wilayah yang memiliki sumber daya alam melimpah tetapi menghadapi persoalan pembangunan sering menjadi sasaran operasi pengaruh atau influence operations,” katanya.

Menurutnya, narasi mengenai daerah yang kaya sumber daya tetapi masyarakatnya belum sejahtera merupakan isu yang sangat mudah dipolitisasi apabila tidak direspons melalui kebijakan pembangunan yang adil.

Baca Juga  RPA Indonesia Laporkan Dugaan Ujaran Kebencian terhadap Masyarakat Maluku ke Polda Metro Jaya

Intelijen Diminta Objektif, Negara Perkuat Pembangunan

Meski demikian, Amir mengingatkan agar pemerintah tidak terburu-buru menganggap setiap konten “Maluku Merdeka” sebagai indikator meningkatnya ancaman nyata.

Sebagian konten, kata dia, dapat berupa ekspresi individu, sementara sebagian lainnya mungkin merupakan provokasi digital yang sengaja dibuat untuk memancing respons emosional.