Porostimur.com, Tel Aviv – Pengamat politik Israel, Gideon Levy, menilai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran dipandang di Israel sebagai kekalahan besar, tidak hanya bagi negara tersebut tetapi juga secara pribadi bagi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu.
Dalam keterangannya kepada media internasional, Levy menyebut kesepakatan tersebut menandai kegagalan strategi panjang Netanyahu dalam menghadapi Iran, yang selama ini menjadi fokus utama kebijakan luar negerinya.
Iran Disebut Proyek Politik Netanyahu
Levy menegaskan bahwa Iran merupakan “proyek hidup” Netanyahu. Namun, dalam kesepakatan terbaru ini, Israel justru dinilai tersingkir dari proses negosiasi.
“Iran adalah proyek hidup Netanyahu, dan sekarang Israel sepenuhnya dikeluarkan dari negosiasi. Ini menunjukkan Israel kalah dalam permainan ini,” ujarnya.
Ia juga menyinggung langkah-langkah militer Israel yang dinilai tidak efektif, termasuk serangan di wilayah pinggiran Beirut yang disebutnya sebagai tindakan yang tidak strategis.
Faktor Lebanon Jadi Ujian Kesepakatan
Menurut Levy, tantangan terbesar dari kesepakatan tersebut justru terletak pada situasi di Lebanon. Ia menilai keterlibatan Iran di kawasan itu membuat implementasi kesepakatan menjadi sangat kompleks.
“Kesepakatan ini sangat rapuh. Situasi di Lebanon akan menjadi ujian utama karena Israel masih berada di sana dan tidak berniat menarik diri,” katanya.











