Tetapi membaca Indonesia dengan kesungguhan yang sama.
Dari Objek Pengetahuan Menjadi Subjek Pengetahuan
Mungkin inilah proyek kemerdekaan yang belum selesai.
Kemerdekaan 1945 membebaskan Indonesia dari kolonialisme politik.
Generasi berikutnya harus menyelesaikan pekerjaan yang lebih sulit: membebaskan Indonesia dari ketergantungan epistemologis.
Bukan dengan mengatakan bahwa teori luar salah.
Melainkan dengan mengatakan: “Teori itu berguna. Tetapi pengalaman kami juga menghasilkan pengetahuan.”
Bukan dengan mengatakan:
“Kami tidak mau belajar dari dunia.”
Melainkan: “Kami ingin berdialog dengan dunia sebagai subjek.”
Bukan: “Indonesia harus menjadi seperti negara maju.”
Melainkan: “Apa yang dapat dunia pelajari dari pengalaman Indonesia?”
Pertanyaan terakhir mengubah posisi kita.
Dari objek menjadi subjek.
Dari pengguna menjadi pencipta.
Dari pengikut menjadi mitra.
Dari pasar pengetahuan menjadi produsen pengetahuan.
Salah Asuhan Tidak Selesai dengan Mengganti Pengasuh
Maka mungkin kita perlu mengubah cara melihat masalah Indonesia.
Indonesia tidak semata-mata kekurangan orang pintar.
Tidak semata-mata kekurangan aturan.
Tidak semata-mata kekurangan lembaga.
Tidak semata-mata kekurangan teknologi.
Bahkan tidak semata-mata kekurangan teori.
Kita mungkin mengalami sesuatu yang lebih mendasar: kita salah menghubungkan teori dengan kenyataan.











