Sangiang Menaruh Cerita

oleh -400 views
Link Banner

Karya: Amrin Teapon, (Alumni Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Kie Raha Ternate)

Mengenang cerita singkat asmaraloka 6 tahun silam antara lelaki yang berasal dari Pulau Senapan (Sula) Maluku Utara dengan perempuan Tual Maluku Tenggara!

Namanya Dian, nama lengkapnya Dian Rahmawaty. Wanita yang mempunyai wajah polos, berhidung mancung, dan berketurunan Seram (Maluku).

Januari 2015 lalu, terlukis kenangan di dalam kapal Sangiang yang berjalan dari Sanana menuju ke Ternate. Arus yang di sertai gelombang, membuat Dian merasa mabuk laut hampir kepayahan, hingga aku pun bingung dengan tindakan apa yang perlu dilakukan. Mau apatis salah-salah, sementara Dian bertetangga ranjang denganku, perempuan pula.

Berawal pada rasa malu, perlahan-lahan berubah menjadi canda tawa. Wajah bahagia mulai tampak, namun tak mampu diungkapkan lewat kalimat yang begitu panjang. Walaupun berjalannya kapal Sangiang seperti kayu yang terhanyut, tetapi dalam hati kecilku masih tersimpan bisikan untuk memperlambat perjalanan. Merasa lucu yang berlainan, disertai dengan kasih sayang yang mulai terpendam.

Waktu menunjukkan pukul 21.00 WIT, menandakan saatnya makan malam. Dian yang masih tampak malu-malu, berusaha membujukku makan roti, serta beberapa makanan ringan lainnya. Aku berusaha mengayunkan tangan mengambil sepotong Kusuka (salah satu jenis makanan ringan), juga satu botol minuman Nee Green Tea. Sambil menikmati makan dan minum, Dian perlahan-lahan mengajakku berbicara. Dian banyak melontarkan pertanyaan tanpa ragu. Rasa malu yang sebelumnya, hampir tak terlihat lagi pada ekspresi Dian. Begitu pun denganku, aku menjawab penuh santai tanpa ragu-ragu dan malu-malu.

Perkenalan telah dilewati. Aku baru tahu, padahal Dian merupakan salah satu penumpang lanjutan dari Ambon.

“Beta nai kapal Sangiang ini barang beta penasaran deng Sanana, kolo seng beta so nai Pesawat langsung ka Makassar, baru nanti ke Jogja. Tapi akan b nai kapal ini sampe ka Ternate sa, mudah-mudahan turun dari kapal Sangiang ada informasi pesawat ka Makassar,” kata Dian berdialek Ambon.

Aku ingat, bahwa kala itu, aku masih menjadi lelaki pecandu rokok dan kopi. Sedangkan Dian adalah salah satu mahasiswi jurusan Keperawatan pada salah satu Kampus Kesehatan di Yogyakarta, tentunya kegiatan merokok sangat bertentangan dengan harapan Dian.

“Am, bisa kase mati roko kah? Beta ingin bicara, hanya beta seng mau lia asap roko”, pinta Dian.

Aku seakan-akan tak peduli, sebab pada dasarnya aku bukanlah tipekal lelaki yang tak bisa diatur, apalagi wanita yang baru saja kenal melarangku berhenti merokok.

Barangkali, Dian merasa aku tak menghiraukan perkataannya, Dian langsung mengambil rokok langsung dibuang ke laut. Bukan cuma sebatang rokok, bahkan rokok yang utuh dalam bungkusan dan satu korek api pun di buang ke laut secara bersamaan.

Aku diam seketika, sambil bergumam dalam hati.

“Ana ini sapa kong biking begini? Ana baru kenal b saja ka ator keadaan sampe,” kata aku dalam hati penuh kesal.

Setelah membuang rokok dan korek api, Dian bertanya.

“Am, se marah beta kalo b begini, iyo?”

Saat itu, aku benar-benar bingung dengan sikap Dian yang memang menurutku tak wajar.

“Am, jawab!,” ucap Dian bernada pelan.

Dengan keadaan terpaksa, aku harus berusaha membuka bibir tersenyum hambar, dengan maksud agar Dian tak curiga kalau sebenarnya aku sedikit marah.

“Hahahae… B seng marah e… Justru beta senang, se mempunyai perhatian di beta. Jadi, b seng marah!”, kataku.

“Betul seng marah?”, tanya Dian serius.

“Iya, seng marah,” Aku menjawab.

Berangkat dari situ, Dian lebih lancar berbicara. Dian merepresentasikan masalah kesehatan yang tak lain dan tak bukan, Dian menyentil bahaya isap rokok dan minum kopi.

Baca Juga  Fokus Pemerataan, PLN Catat Pertumbuhan Listrik Indonesia Timur Naik Signifikan

Malam itu, aku berubah mendadak manjadi mahasiswa, dan Dian menjadi seorang dosen, lebih sial lagi aku merasa seperti dihipnotis oleh Dian. Mengapa tidak, pasalnya kopi yang masih asyik ku santap penuh nikmat, Dian menumpahkan ke laut. Anehnya, aku sadar melihat Dian menumpahkan kopi, tetapi aku tak bisa marah, bahkan tak bisa apa-apa. Aku hanya melihatnya berbicara dan mendengar suaranya, seolah-olah Dian tak melakukan satu kesalahan.

Setelah berceloteh yang memakan waktu berjam-jam, ternyata Dian memberiku pembelajaran yang berharga. Di mana, aku bisa mengetahui ilmu kesehatan, meskipun tak secara keseluruhan. Paling tidak, bisa dijadikan sebagai referensi yang bermanfaat.

Melanjutkan percakapan, sembari Dian mengambil alat pengukur tekanan darah (tensi meter), lalu Dian menyuruhku untuk membuka jaket mengukur tekanan darah.

“Se pung darah 100, Am. Nanti kalo so sampe di Ternate, kase kurang bagadang e, istirahat sesuai deng waktu!,” kata Dian.

Dian menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab darah tak normal, yakni misalnya terlalu bergadang dan waktu istirahat tak beraturan.

Dian banyak memberiku pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh dalam aktivitas keseharian. Akan tetapi, pada saat Dian melihat foto-foto di laptopku, Dian pun memami kalau aku juga salah satu mahasiswa yang banyak menghabiskan waktu di jalanan dan bergadang.

Waktu semakin larut, hampir semua orang sudah terlelap dalam tidur, hanya ada satu dua orang yang masih duduk santai dan mengobrol di masing-masing ranjang kapal.

Aku sempat menyuruh Dian untuk istirahat lebih dulu, namun Dian menolak.

“Istirahat sudah kalo so manganto!,” suruh aku.

Barang seng mau bacarita deng beta lai? Kalo bosan, bilang saja,” ucap Dian sambil menarik tangan aku, dengan maksud Dian bersandar di bahuku.

Suasana terasa lebih tenang, juga terasa semakin larut semakin romantis. Rupanya, aku harus bergegas mengungkapkan isi hati kepada Dian. Semuanya yang direncanakan seperti bohong, ternyata Dian sudah membaca apa yang hendak akan ku sampaikan.

“Am, seng usah bilang. Beta so paham apa yang se mau bilang. Beta mau bilang, b jua mempunyai perasaan yang sama ka deng se. Beta suka se, Am. Baru kali ini beta merasakan jatuh cinta deng laki-laki dalam waktu yang singkat. Am, se biking beta rasa beda saat ini. B sayang se, beta terima se apa adanya, asal jang isap rokok lai deng kase kurang minum kopi, karena b seng mau se sakit,” ungkap Dian sambil mengelus pipiku.

Entah kenapa, dalam keadaan spontan, aku memeluk Dian. Dian pun memeluk aku, Dian meneteskan air mata, pertanda ada satu hal yang membuat Dian terharu. Malam itu, samudera menjadi saksi kisah cinta aku dan Dian.

Aku melirik kiri-kanan, tampaknya tetangga-tetangga ranjang sudah ternyenyak tidur. Di tempat sekitar, hanya aku dan Dian yang masih tetap setia membuka mata. Dian dengan kedua tangannya memelukku dengan erat, kemudian aku pun membelai rambutnya hingga kantuk, akhirnya kami berdua ikut tertidur pulas.

Mendekati pagi, aku kaget dengan suara tangisan bayi. Aku perlahan membuka mata, Dian masih tertidur di dadaku dengan kedua tangan yang belum terlepas dalam pelukan.

“Di, Di, Diyan,” panggil aku dengan bisikan sambil mengelus rambutnya.

“Mmm… Mmm… Ya, Am,” sahut Dian.

Dian membuka mata dan terbangun, sementara aku masih fokus menekan tombol handphone memutar video. Dian bergegas mengambil peralatan untuk membasuh muka dan menyikat gigi. Setelah kembali, aku pun bergegas membasuh muka dan menyikat gigi.

Baca Juga  Upaya Penguatan Komisi Yudisial Melalui Revisi Undang-Undang

Ketika menatap jendela kapal, semesta sudah hampir cerah. Tinggal beberapa menit saja, sunrise pun sudah bersiap-siap memancarkan warna jingganya.

Di saat sebagian orang masih memelih untuk tidur, aku dan Dian mencoba meringankan kaki. Dengan bergandengan, kami berjalan ke dek kapal paling teratas. Di situ, momen romantisme kembali terjadi. Aku dan Dian berpelukan memandang lautan lepas, kami berdua mempunyai adegan yang hampir layaknya pasca Jack yang berupaya menyelamatkan nyawa Rose yang mau bunuh diri dalam film Kapal Tinanic. Dian mempunyai ukuran tinggi badan hampir sama denganku. Jika berdiri bersamaan, maka bibirku berada tepat di sekitar kening dan testa Dian.

Nuansa benar-benar berbeda. Bergelora dalam sukma, yang menyembunyikan makna tanpa kata, pelukan hangat semakin sulit dilepaskan. Menatap mentari pagi yang sudah hampir bermunculan, aku bingung dengan tanya. Sebuah tanya yang memecahkan lamunanku, menyatu dengan hati hingga tak tahu mana yang harus didefinisikan lebih awal.

Matahari telah terbit, Pulau Ternate sudah kasat di depan mata. Dian memintaku bersepakat untuk tidak lagi saling memanggil nama, tetapi harus digantikan dengan sapaan “Abang dan I”. Dian memanggilku Abang, sebaliknya aku memanggilnya I. Aku dan Dian sama-sama seangkatan lulusan SMA di tahun 2013, cuma kami berbeda tingkatan umur. Aku lahir pada Oktober 1994, sedangkan Dian lahir pada November 1996. Akhirnya, aku menyetujui permintaannya. Pagi itu, kami bersepakat dengan sapaan akrab, Abang dan I.

“Abang, diantara berapa Pulau, mana yang Pulau Ternate?,” tanya Dian.

“Itu, I. Yang di depannya Pulau Tidore, Pulau Tidore yang gunungnya paling tinggi,” jawabku.

“Berarti seng lama lai tong sampe. Beta balong mau kase tinggal Abang,” beber Dian dengan muka yang sedih.

Perut yang mengoyak, aku dan Dian kembali ke ranjang untuk serapan. Seperti biasa, masih dengan roti, Kusuka, dan Nee Green Tea. Penumpang kapal semua sudah terbangun dan serapan, sekaligus menyiapkan barang-barang bawaan.

Dian yang sudah tahu perjalanan sudah hampir sampai, dia tak melepaskan genggaman tangan. Aku jadi malu dengan teman-temanku, serta tak enak hati. Karena dengan kehadiran Dian di kapal, aku tidak lagi meluangkan waktu untuk teman-temanku. Namun aku merasa kuat, karena teman-temanku memahami kondisi tersebut.

Menjelang beberapa jam kemudian, ABK kapal memberikan informasi agar penumpang tak lupa memperhatikan barang-barang bawaan. Dian memegang tanganku, tak mau aku buru-buru turun dari kapal, dia ingin menghabiskan sisa-sisa waktu bersamaku di kapal.

Rrrrrr… Tiba-tiba handphone aku bergetar, pertanda ada yang menelpon. Pada saat aku lirik, eh ternyata jemputanku yang telpon.

Dengan wajah yang murung, Dian terpaksa mengambil barang-barang bawaannya dan bersiap-siap turun dari kapal. Sebelum turun dari kapal, Dian melampiaskan hasrat cintanya lewat pelukan erat yang diikutsertakan dengan tangisan kecil.

Aku mengecup keningnya, dan mencoba membujuk sambil mengelus air mata yang melekat di pipinya, dengan tujuan agar dapat menguatkan hati Dian. Beranjak turun dari kapal, jemputanku sudah bersiap-siap. Aku hendak pamit, lalu Dian menarik tanganku. Aku melihat Dian membuka cincin besi putih di jari manisnya, kemudian memasang di jari manisku. Dian sempat membujukku memberiku handphone Blackberry miliknya, karena dia mempunyai dua handphone yang satunya bermerek Samson Galaxy, tetapi aku menolak. Menurutku, dengan adanya pemberian cincin, itu sudah lebih dari cukup.

Perpisahan dimulai. Dalam perjalanan, layangan SMS tak putus-putus. Sesampainya di kosan, aku menelpon. Pada saat menelepon, nomornya Dian tak aktif. Aku pikir, mungkin baterainya sedang lobet. Mengingat karena semalam kurang tidur, aku meluruskan badan untuk tidur.

Baca Juga  Berlokasi di Seram, Mondelēz International dan Olam Food Ingredients Luncurkan Pertanian Kakao Komersial Berkelanjutan Terbesar di Dunia

Tidurku nyenyak, hanya saja aku dikagetkan dengan getaran handphone. Perlahan membuka mata dan mengambil handphone, ternyata satu panggilan tak terjawab dan SMS dari Dian.

“Ka, I so di Makassar. Sadiki lai langsung ke Jogja,” SMS Dian.

“Iya, sayang. Hati-hati dalam perjalanan, semoga sampai tujuan dengan selamat!,” Aku membalas.

Tak terasa, sudah sore, waktu menunjukkan jam olahraga. Di samping kosan, ada lapangan bola gawang mini yang menjadi titik kumpul olahraga anak-anak kosan di kala sore.

Aku ke kamar mandi membasuh muka. Tak sengaja, handphone yang ku letakkan di kantong baju, jatuh dalam bak kamar mandi. Dengan lekas mengulurkan tangan, tetapi tak dapat lagi diselamatkan.

Handphone kesayanganku sudah rusak, nomornya Dian yang tersimpan, aku belum menghafalnya. Lebih sakit lagi, nomor tak tersimpan di kartu, tetapi tersimpan di handphone, ditambah lagi kartu sudah hampir terblokir.

Aku sempat lunglai, dan benar-benar lunglai. Apakah kisah cintaku seperti ini? Bagaimana dengan kabar Dian di sana? Di mana harus ku simpan rasa ini? Berbagai pertanyaan aneh timbul dalam benakku seketika, pikiranku melayang tak keruan.

Mulanya aku menduga, sepertinya hubunganku dan Dian tak akan bertahan lama, karena proses komunikasinya terbatas. Kala itu aku sadar, zaman belum modern seperti saat ini. Aku hanya bermodal satu buah handphone bermerek Mito yang tak bisa mengakses internet. Mau buka Facebook saja, harus ke warung internet (Warnet), padahal Dian sudah mempunyai Facebook dan BBM di handphonenya bermerek BlackBerry. Salahnya, aku tak meminta nama Facebook Dian, aku hanya menyimpan nomor telepon Dian pada handphoneku. Sabab aku pikir, bertahan dengan telpon biasa saja sudah cukup.

Dugaan itu ternyata benar. Cinta kisah cintaku dan Dian, hanya memakan waktu sehari semalam.

Bagiku, Dian merupakan sosok wanita yang memberiku pengalaman yang baru. Sikapnya yang lemah lembut, baik hati, penuh perhatian. Aku sempat ke warnet membuka Facebook, dengan harapan bisa menemukan nama Facebook Dian. Setiap ke Warnet, aku pasti mencari nama Dian di di dinding Facebook. Berbulan-bulan aku mencari Dian, tetapi takdir berkata lain. Dian yang ku kagumi, tak berhasil ku temukan.

Bukan cuma Dian yang mengakui jatuh cinta dengan waktu yang cepat, namun aku pun sama. Aku tak pernah merasakan jatuh cinta secepat ini sebelumnya, hanya Dian satu-satunya, tak ada yang lain.

“Ya ampuuun… Kenapa ini harus terjadi?,” aku bertanya pada diriku sendiri sambil menaruh tangan di kapala penuh frustasi.

Aku terjebak, lebih parahnya aku tersesat, seperti bunga matahari yang mengira bisa menggapai surya karena setia mengaguminya. Mungkin memang seharusnya aku berdiri dalam lingkungan amanku saja, di mana setiap kesal, jengkel, amarah, kekaguman hanya ku belenggu pada ekspresi kata. Menciptakan duniaku di tempat yang berbeda. Seharusnya ku simpan saja perasaan ini? Atau tak seharusnya perasaan ini menggerogotiku?

Kekasih, meskipun sebelumnya kita telah berbahagia bersama dengan waktu singkat yang kemudian pada akhirnya terpisah, dan tertutup semua cerita. Akan tetapi, selalu ku pahat rapi jejak rindu tantang kita.

Punggungmu yang berlalu begitu saja. Tawamu yang ku pandangi dulu, kini hampir tak terlihat lagi. Namun percayalah, sampai kini, sentuhan itu masih terasa dengan lembutnya yang kian membelai sepinya hati. Senantiasa ku bingkai binar matamu bersama gelegak gairah jiwaku, hingga tersimpan menjadi lukisan indah di cakrawalaku, Kekasih. Semoga! (*)