Sangiang Menaruh Cerita

oleh -144 views

Menjelang beberapa jam kemudian, ABK kapal memberikan informasi agar penumpang tak lupa memperhatikan barang-barang bawaan. Dian memegang tanganku, tak mau aku buru-buru turun dari kapal, dia ingin menghabiskan sisa-sisa waktu bersamaku di kapal.

Rrrrrr… Tiba-tiba handphone aku bergetar, pertanda ada yang menelpon. Pada saat aku lirik, eh ternyata jemputanku yang telpon.

Dengan wajah yang murung, Dian terpaksa mengambil barang-barang bawaannya dan bersiap-siap turun dari kapal. Sebelum turun dari kapal, Dian melampiaskan hasrat cintanya lewat pelukan erat yang diikutsertakan dengan tangisan kecil.

Aku mengecup keningnya, dan mencoba membujuk sambil mengelus air mata yang melekat di pipinya, dengan tujuan agar dapat menguatkan hati Dian. Beranjak turun dari kapal, jemputanku sudah bersiap-siap. Aku hendak pamit, lalu Dian menarik tanganku. Aku melihat Dian membuka cincin besi putih di jari manisnya, kemudian memasang di jari manisku. Dian sempat membujukku memberiku handphone Blackberry miliknya, karena dia mempunyai dua handphone yang satunya bermerek Samson Galaxy, tetapi aku menolak. Menurutku, dengan adanya pemberian cincin, itu sudah lebih dari cukup.

Perpisahan dimulai. Dalam perjalanan, layangan SMS tak putus-putus. Sesampainya di kosan, aku menelpon. Pada saat menelepon, nomornya Dian tak aktif. Aku pikir, mungkin baterainya sedang lobet. Mengingat karena semalam kurang tidur, aku meluruskan badan untuk tidur.