Sangiang Menaruh Cerita

oleh -139 views

Matahari telah terbit, Pulau Ternate sudah kasat di depan mata. Dian memintaku bersepakat untuk tidak lagi saling memanggil nama, tetapi harus digantikan dengan sapaan “Abang dan I”. Dian memanggilku Abang, sebaliknya aku memanggilnya I. Aku dan Dian sama-sama seangkatan lulusan SMA di tahun 2013, cuma kami berbeda tingkatan umur. Aku lahir pada Oktober 1994, sedangkan Dian lahir pada November 1996. Akhirnya, aku menyetujui permintaannya. Pagi itu, kami bersepakat dengan sapaan akrab, Abang dan I.

“Abang, diantara berapa Pulau, mana yang Pulau Ternate?,” tanya Dian.

“Itu, I. Yang di depannya Pulau Tidore, Pulau Tidore yang gunungnya paling tinggi,” jawabku.

“Berarti seng lama lai tong sampe. Beta balong mau kase tinggal Abang,” beber Dian dengan muka yang sedih.

Perut yang mengoyak, aku dan Dian kembali ke ranjang untuk serapan. Seperti biasa, masih dengan roti, Kusuka, dan Nee Green Tea. Penumpang kapal semua sudah terbangun dan serapan, sekaligus menyiapkan barang-barang bawaan.

Baca Juga  Komisi I DPR Dorong Reaktivasi Operasi Wilayah Demi Tekan Konflik di Maluku

Dian yang sudah tahu perjalanan sudah hampir sampai, dia tak melepaskan genggaman tangan. Aku jadi malu dengan teman-temanku, serta tak enak hati. Karena dengan kehadiran Dian di kapal, aku tidak lagi meluangkan waktu untuk teman-temanku. Namun aku merasa kuat, karena teman-temanku memahami kondisi tersebut.