Dian membuka mata dan terbangun, sementara aku masih fokus menekan tombol handphone memutar video. Dian bergegas mengambil peralatan untuk membasuh muka dan menyikat gigi. Setelah kembali, aku pun bergegas membasuh muka dan menyikat gigi.
Ketika menatap jendela kapal, semesta sudah hampir cerah. Tinggal beberapa menit saja, sunrise pun sudah bersiap-siap memancarkan warna jingganya.
Di saat sebagian orang masih memelih untuk tidur, aku dan Dian mencoba meringankan kaki. Dengan bergandengan, kami berjalan ke dek kapal paling teratas. Di situ, momen romantisme kembali terjadi. Aku dan Dian berpelukan memandang lautan lepas, kami berdua mempunyai adegan yang hampir layaknya pasca Jack yang berupaya menyelamatkan nyawa Rose yang mau bunuh diri dalam film Kapal Tinanic. Dian mempunyai ukuran tinggi badan hampir sama denganku. Jika berdiri bersamaan, maka bibirku berada tepat di sekitar kening dan testa Dian.
Nuansa benar-benar berbeda. Bergelora dalam sukma, yang menyembunyikan makna tanpa kata, pelukan hangat semakin sulit dilepaskan. Menatap mentari pagi yang sudah hampir bermunculan, aku bingung dengan tanya. Sebuah tanya yang memecahkan lamunanku, menyatu dengan hati hingga tak tahu mana yang harus didefinisikan lebih awal.




