Tidurku nyenyak, hanya saja aku dikagetkan dengan getaran handphone. Perlahan membuka mata dan mengambil handphone, ternyata satu panggilan tak terjawab dan SMS dari Dian.
“Ka, I so di Makassar. Sadiki lai langsung ke Jogja,” SMS Dian.
“Iya, sayang. Hati-hati dalam perjalanan, semoga sampai tujuan dengan selamat!,” Aku membalas.
Tak terasa, sudah sore, waktu menunjukkan jam olahraga. Di samping kosan, ada lapangan bola gawang mini yang menjadi titik kumpul olahraga anak-anak kosan di kala sore.
Aku ke kamar mandi membasuh muka. Tak sengaja, handphone yang ku letakkan di kantong baju, jatuh dalam bak kamar mandi. Dengan lekas mengulurkan tangan, tetapi tak dapat lagi diselamatkan.
Handphone kesayanganku sudah rusak, nomornya Dian yang tersimpan, aku belum menghafalnya. Lebih sakit lagi, nomor tak tersimpan di kartu, tetapi tersimpan di handphone, ditambah lagi kartu sudah hampir terblokir.
Aku sempat lunglai, dan benar-benar lunglai. Apakah kisah cintaku seperti ini? Bagaimana dengan kabar Dian di sana? Di mana harus ku simpan rasa ini? Berbagai pertanyaan aneh timbul dalam benakku seketika, pikiranku melayang tak keruan.
Mulanya aku menduga, sepertinya hubunganku dan Dian tak akan bertahan lama, karena proses komunikasinya terbatas. Kala itu aku sadar, zaman belum modern seperti saat ini. Aku hanya bermodal satu buah handphone bermerek Mito yang tak bisa mengakses internet. Mau buka Facebook saja, harus ke warung internet (Warnet), padahal Dian sudah mempunyai Facebook dan BBM di handphonenya bermerek BlackBerry. Salahnya, aku tak meminta nama Facebook Dian, aku hanya menyimpan nomor telepon Dian pada handphoneku. Sabab aku pikir, bertahan dengan telpon biasa saja sudah cukup.




