“Am, seng usah bilang. Beta so paham apa yang se mau bilang. Beta mau bilang, b jua mempunyai perasaan yang sama ka deng se. Beta suka se, Am. Baru kali ini beta merasakan jatuh cinta deng laki-laki dalam waktu yang singkat. Am, se biking beta rasa beda saat ini. B sayang se, beta terima se apa adanya, asal jang isap rokok lai deng kase kurang minum kopi, karena b seng mau se sakit,” ungkap Dian sambil mengelus pipiku.
Entah kenapa, dalam keadaan spontan, aku memeluk Dian. Dian pun memeluk aku, Dian meneteskan air mata, pertanda ada satu hal yang membuat Dian terharu. Malam itu, samudera menjadi saksi kisah cinta aku dan Dian.
Aku melirik kiri-kanan, tampaknya tetangga-tetangga ranjang sudah ternyenyak tidur. Di tempat sekitar, hanya aku dan Dian yang masih tetap setia membuka mata. Dian dengan kedua tangannya memelukku dengan erat, kemudian aku pun membelai rambutnya hingga kantuk, akhirnya kami berdua ikut tertidur pulas.
Mendekati pagi, aku kaget dengan suara tangisan bayi. Aku perlahan membuka mata, Dian masih tertidur di dadaku dengan kedua tangan yang belum terlepas dalam pelukan.
“Di, Di, Diyan,” panggil aku dengan bisikan sambil mengelus rambutnya.
“Mmm… Mmm… Ya, Am,” sahut Dian.




