Setelah membuang rokok dan korek api, Dian bertanya.
“Am, se marah beta kalo b begini, iyo?”
Saat itu, aku benar-benar bingung dengan sikap Dian yang memang menurutku tak wajar.
“Am, jawab!,” ucap Dian bernada pelan.
Dengan keadaan terpaksa, aku harus berusaha membuka bibir tersenyum hambar, dengan maksud agar Dian tak curiga kalau sebenarnya aku sedikit marah.
“Hahahae… B seng marah e… Justru beta senang, se mempunyai perhatian di beta. Jadi, b seng marah!”, kataku.
“Betul seng marah?”, tanya Dian serius.
“Iya, seng marah,” Aku menjawab.
Berangkat dari situ, Dian lebih lancar berbicara. Dian merepresentasikan masalah kesehatan yang tak lain dan tak bukan, Dian menyentil bahaya isap rokok dan minum kopi.
Malam itu, aku berubah mendadak manjadi mahasiswa, dan Dian menjadi seorang dosen, lebih sial lagi aku merasa seperti dihipnotis oleh Dian. Mengapa tidak, pasalnya kopi yang masih asyik ku santap penuh nikmat, Dian menumpahkan ke laut. Anehnya, aku sadar melihat Dian menumpahkan kopi, tetapi aku tak bisa marah, bahkan tak bisa apa-apa. Aku hanya melihatnya berbicara dan mendengar suaranya, seolah-olah Dian tak melakukan satu kesalahan.
Setelah berceloteh yang memakan waktu berjam-jam, ternyata Dian memberiku pembelajaran yang berharga. Di mana, aku bisa mengetahui ilmu kesehatan, meskipun tak secara keseluruhan. Paling tidak, bisa dijadikan sebagai referensi yang bermanfaat.




