Sangiang Menaruh Cerita

oleh -140 views

Melanjutkan percakapan, sembari Dian mengambil alat pengukur tekanan darah (tensi meter), lalu Dian menyuruhku untuk membuka jaket mengukur tekanan darah.

“Se pung darah 100, Am. Nanti kalo so sampe di Ternate, kase kurang bagadang e, istirahat sesuai deng waktu!,” kata Dian.

Dian menjelaskan, ada beberapa faktor penyebab darah tak normal, yakni misalnya terlalu bergadang dan waktu istirahat tak beraturan.

Dian banyak memberiku pesan tentang pentingnya menjaga kesehatan tubuh dalam aktivitas keseharian. Akan tetapi, pada saat Dian melihat foto-foto di laptopku, Dian pun memami kalau aku juga salah satu mahasiswa yang banyak menghabiskan waktu di jalanan dan bergadang.

Waktu semakin larut, hampir semua orang sudah terlelap dalam tidur, hanya ada satu dua orang yang masih duduk santai dan mengobrol di masing-masing ranjang kapal.

Baca Juga  Baksos Terintegrasi di Malra Sukses Digelar, 1.017 Warga Terima Manfaat

Aku sempat menyuruh Dian untuk istirahat lebih dulu, namun Dian menolak.

“Istirahat sudah kalo so manganto!,” suruh aku.

Barang seng mau bacarita deng beta lai? Kalo bosan, bilang saja,” ucap Dian sambil menarik tangan aku, dengan maksud Dian bersandar di bahuku.

Suasana terasa lebih tenang, juga terasa semakin larut semakin romantis. Rupanya, aku harus bergegas mengungkapkan isi hati kepada Dian. Semuanya yang direncanakan seperti bohong, ternyata Dian sudah membaca apa yang hendak akan ku sampaikan.