Perkenalan telah dilewati. Aku baru tahu, padahal Dian merupakan salah satu penumpang lanjutan dari Ambon.
“Beta nai kapal Sangiang ini barang beta penasaran deng Sanana, kolo seng beta so nai Pesawat langsung ka Makassar, baru nanti ke Jogja. Tapi akan b nai kapal ini sampe ka Ternate sa, mudah-mudahan turun dari kapal Sangiang ada informasi pesawat ka Makassar,” kata Dian berdialek Ambon.
Aku ingat, bahwa kala itu, aku masih menjadi lelaki pecandu rokok dan kopi. Sedangkan Dian adalah salah satu mahasiswi jurusan Keperawatan pada salah satu Kampus Kesehatan di Yogyakarta, tentunya kegiatan merokok sangat bertentangan dengan harapan Dian.
“Am, bisa kase mati roko kah? Beta ingin bicara, hanya beta seng mau lia asap roko”, pinta Dian.
Aku seakan-akan tak peduli, sebab pada dasarnya aku bukanlah tipekal lelaki yang tak bisa diatur, apalagi wanita yang baru saja kenal melarangku berhenti merokok.
Barangkali, Dian merasa aku tak menghiraukan perkataannya, Dian langsung mengambil rokok langsung dibuang ke laut. Bukan cuma sebatang rokok, bahkan rokok yang utuh dalam bungkusan dan satu korek api pun di buang ke laut secara bersamaan.
Aku diam seketika, sambil bergumam dalam hati.
“Ana ini sapa kong biking begini? Ana baru kenal b saja ka ator keadaan sampe,” kata aku dalam hati penuh kesal.




