Sejarah Asal-usul Penamaan Morotai

oleh -1,950 views

Dari kisah tersebut menghasilkan nilai-nilai yang dapat diterapkan oleh masyarakat setempat, seperti lebih menghargai para leluhur, menjaga dan melestarikan adat-istiadat, dan cara hidup yang lebih baik. Dengan demikian, dapat dijelaskan bahwa variabel yang dipakai Eka untuk menjelaskan proses menghilangnya orang Moro di daratan Utara Halmahera karena variabel pajak (upeti) yang dibebankan sultan Ternate kepada mereka, menurut penulis sangatlah lemah dan tidak memiliki argumentasi yang kuat secara ilmiah.

Terkait dua tulisan tersebut, baik yang di tulis oleh J. D. M. Platenkamp (1993), maupun Eka Krisdayanti Papua (2019), masing-masing mereka beranjak dari variabel yang kurang lebih sama, yaitu menghilangnya orang-orang Moro di daratan Utara Halmahera karena serangan mematikan yang dilancarkan Sultan Khairun dari Ternate, Katabruno dari Jailolo, maupun beban upeti dari Kesultanan Ternate.

Baca Juga  Serangan Gabungan AS-Arab Saudi di Irak Tewaskan 20 Milisi, Baghdad Kecam Pelanggaran Kedaulatan

Berdasarkan pada dua tulisan tersebut di atas, berikut ini penulis mencoba untuk mengemukakan argumen sebagai perbandingannya terkait proses lenyapnya orang Moro, baik di daratan Utara Halmahera maupun Muslim Moro di Manila (Kota Seludong) Filipina Utara.

Berdasarkan sumber-sumber tertulis terkait sejarah perkembangan Islam di Filipina, para ahli sejarah Islam setempat menjelaskan bahwa sejak berdirinya Kesultanan Islam Manila pada 1258 yang populer dengan sebutan Kerajaan Tagalog Muslim yang berkedudukan di Kota Manila di Utara Filipina, mereka berupaya melakukan ekspansi wilayahnya hingga mencapai Cebu dan Mactan (kerajaan Lapu-Lapu) di Filipina Tengah. Pada abad ke-16, terdapat tiga orang raja di Kesultanan Islam Manila, yaitu Raja Sulaeman, Raja Matanda, dan Raja Lakandula pernah menjalin hubungannya dengan Kesultanan Brunai, Kesultanan Sulu, dan Kesultanan Ternate.

No More Posts Available.

No more pages to load.