“Keberhasilan hilirisasi nikel pada akhirnya tercermin pada kondisi konkret di lapangan: pekerja dapat bekerja dan pulang dengan selamat, masyarakat tetap memperoleh akses yang layak terhadap sumber penghidupan, serta lingkungan hidup terjaga dengan baik,” ujar Halili dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Harita Nickel Raih Skor Tertinggi
Dalam audit tersebut, PT Trimegah Bangun Persada Tbk. (Harita Nickel) mencatat skor komposit tertinggi, yakni 63,60, dan masuk kategori Established.
Penilaian itu ditopang sejumlah aspek, antara lain kelengkapan kebijakan keberlanjutan, penerapan Human Rights Due Diligence (HRDD), fasilitas pengelolaan lingkungan seperti Dry Stack Tailing Facility (DSTF), serta keterlibatan dalam audit independen internasional seperti Initiative for Responsible Mining Assurance (IRMA).
Di bawahnya, ANTAM memperoleh skor 58,24, disusul WBN dengan 41,76 dan IWIP sebesar 41,12. Ketiganya berada dalam kategori Improving.
Sementara PT Wanatiara Persada mencatat skor 40,72 dan masuk kategori Basic.
Pemetaan tersebut menunjukkan bahwa perkembangan tata kelola HAM di sektor nikel Maluku Utara masih berada pada tingkat yang berbeda-beda.
Namun, secara umum, audit menemukan adanya kemajuan dalam pembangunan fondasi keselamatan dan kesehatan kerja (K3), tata kelola keberlanjutan atau ESG, hingga mekanisme penerimaan dan penanganan aspirasi publik.









