Setelah Mikrofon Dimatikan

oleh -71 Dilihat

Setiap Milad MUI, rapor itu dibuka. Tidak untuk mempermalukan siapa pun. Justru untuk menjaga ingatan kelembagaan. Organisasi besar sering tidak gagal karena kekurangan orang pintar. Ia gagal karena “ingatan institusinya lebih pendek daripada masa kepengurusannya”.

Dan ketika KUII IX kelak diselenggarakan, pleno pertamanya jangan langsung diisi makalah baru. Buka dahulu rapor KUII VIII. Tampilkan mana yang selesai? Mana yang setengah jalan? Mana yang gagal? Mengapa gagal? Mana yang ternyata salah sejak dirancang?

Barulah para profesor dan pejabat naik ke mimbar. Dengan begitu setiap KUII tidak memulai sejarah dari halaman pertama.

Kita memang mempunyai kegemaran nasional terhadap rekomendasi. Ada rekomendasi seminar, rakernas, munas, muktamar, kongres, lokakarya dan FGD. Semakin serius acaranya, biasanya semakin tebal bundel akhirnya.

Indonesia barangkali tidak kekurangan orang yang tahu apa yang harus dilakukan. Yang sering langka adalah “mekanisme untuk memastikan pengetahuan berubah menjadi tindakan”.

Baca Juga  Blue Tsunami Hantam AS, Demokrat Kuasai Kongres dan Abdul El Sayed Cetak Sejarah

Dalam ilmu kebijakan publik, jurang ini biasa disebut implementation gap. Bahasa warung kopinya lebih sederhana: semua tahu resepnya, tak ada yang masuk dapur.

KUII VIII mempunyai kesempatan memutus tradisi itu. Terutama karena kongres kali ini berlangsung ketika MUI memasuki usia 51 tahun. Setengah abad lebih adalah umur yang cukup matang bagi sebuah lembaga untuk bergerak dari sekadar mengeluarkan seruan menuju kemampuan mengorkestrasi pekerjaan bersama. MUI juga punya ISO.

No More Posts Available.

No more pages to load.