Hampir tak ada persoalan Republik ini yang berhasil meloloskan diri dari KUII VIII. Tapi justru keluasan itu menunjukkan sesuatu yang patut diapresiasi: “cakrawala ulama telah berubah”. Perbedaan furu’iyah yang dahulu cukup menguras energi umat makin bergeser ke pinggir.
Kongres umat kali ini tidak menghasilkan resolusi tentang siapa yang paling benar membaca basmalah keras atau pelan. Ulama sekarang berbicara AI, data, oligarki, investasi, reforma agraria, energi, komputasi dan strategic autonomy. Ini bukan perubahan kecil.
Agama sedang berusaha kembali berbicara tentang dunia nyata tempat manusia bekerja, makan, sekolah, berobat, menggunakan gawai, kehilangan data, mencari pekerjaan, dan menghadapi perubahan geopolitik.
LGBT memang memperoleh satu butir panjang dan menjadi berita besar di berbagai media. Tapi Taujihat memberi proporsi yang berbeda. Isu itu hanya satu bagian dari bentangan persoalan yang jauh lebih luas. Ekonomi, pendidikan, ilmu pengetahuan, teknologi dan kedaulatan justru memenuhi bagian besar dokumen.
Kalau ada satu rumpun kata yang terasa menjadi musik latar dari keseluruhan teks Taujihat, itu adalah “penguatan” (10). Ekonomi diperkuat. Koperasi diperkuat. UMKM diperkuat. Pesantren diperkuat. Riset diperkuat. Kedaulatan teknologi diperkuat. Keluarga diperkuat. Persatuan diperkuat. Etika diperkuat. Diplomasi diperkuat.









