Setelah Mikrofon Dimatikan

oleh -71 Dilihat

Namanya juga Taujihat. Ia kompas, bukan buku petunjuk servis mesin. Pertanyaan penting justru datang “sesudah” seluruh dokumen komisi itu disahkan: Bagaimana keputusan sebanyak itu diubah menjadi pekerjaan?

Di sinilah sejarah kongres-kongres besar biasanya mulai kehilangan kamerawan. Saat pembukaan, ruangan penuh. Tokoh datang. Sambutan berderet. Wartawan mengambil gambar. Saat rekomendasi dibacakan, tepuk tangan terdengar.

Sebulan kemudian suasananya berbeda. Dokumen masuk folder. Folder masuk komputer. Komputer ganti pengurus. Pengurus baru mengadakan kongres lagi.

Tentu kita berharap KUII VIII tidak mengikuti siklus kehidupan dokumen yang seperti itu. Apalagi KUII menggunakan istilah yang sangat bagus: tansiqul harakah — koordinasi gerakan. Kata terakhir itu penting. Harakah adalah gerakan. Bukan tansiqul tausiyah: koordinasi nasihat.

Dalam tulisan pertama seri ini saya menyebut perlunya “API Jaringan Umat”. Istilahnya saya pinjam dari dunia komputer yang saya geluti selama ini. API memungkinkan dua sistem berbeda saling bekerja tanpa salah satunya harus kehilangan identitas dan berubah menjadi sistem lainnya.

Baca Juga  Blue Tsunami Hantam AS, Demokrat Kuasai Kongres dan Abdul El Sayed Cetak Sejarah

Umat Islam Indonesia persis membutuhkan itu. NU tak harus menjadi Muhammadiyah. Muhammadiyah tak perlu menjadi PUI. Al-Irsyad tak perlu melebur dengan Al Washliyah. Pesantren tak perlu menyerahkan otonominya kepada MUI. Setiap organisasi tetap membawa sejarah, tradisi, aset, kader dan kompetensinya sendiri.

No More Posts Available.

No more pages to load.