Negeri ini rupanya seperti rumah tua menjelang musim hujan: hampir setiap tiangnya perlu diperkuat. Masalahnya, kata “penguatan” tidak mempunyai tangan. Harus ada seseorang yang mesti mengerjakannya.
Di atas semua itu, kosakata yang paling sering berulang justru umat (16), bangsa (12), Islam (12), dan negara (10). Barangkali empat kata inilah yang paling ringkas menggambarkan medan pikiran KUII VIII: umat Islam sedang mencari tempatnya di tengah bangsa dan negara.
Saya suka temuan terakhir ini. Ia bukan sekadar word cloud. Empat kata teratas itu bahkan membentuk semacam kalimat: umat—bangsa—Islam—negara. Dan itu persis jantung tema KUII VIII.
Di sinilah saya semula tergoda mengajukan kritik yang mudah: KUII menghasilkan daftar panjang tentang apa yang harus dilakukan pemerintah, tetapi siapa yang akan mengerjakan bagian umat sendiri? Ternyata saya keliru kalau berhenti di sana. Dokumen asli Taujihat menjawabnya.
Butir kesembilan bahkan cukup terus-terang mengakui paradoks umat Islam Indonesia. Jumlahnya mayoritas, tetapi, menurut dokumen itu, “tidak sejalan dengan peran dan posisi yang semestinya dalam berbagai bidang”. Penyebab yang disebut adalah belum kuatnya ikatan persatuan dan kesatuan umat.









