Setelah Mikrofon Dimatikan

oleh -71 Dilihat

Tetapi ketika ada pekerjaan bersama, sistem mereka harus bisa “berbicara”, seperti API di dunia komputer. KUII VIII bahkan sudah menyediakan “server”-nya: MUI sebagai Rumah Besar Umat Islam.

Sekarang Taujihat KUII memperlihatkan lapisan persoalan: kita juga mempunyai banyak pekerjaan. Maka yang diperlukan setelah kongres bukan tausiyah tambahan, melainkan sebuah sistem yang mempertemukan “pekerjaan dengan pelakunya”.

Ambil saja satu contoh rekomendasi yang menurut saya sangat penting: mengubah umat dari pengguna menjadi pengembang teknologi. Pertanyaannya, siapa yang akan mengerjakannya?

Perguruan tinggi Muhammadiyah mungkin mempunyai laboratorium dan dosen. Perguruan tinggi PUI mempunyai jaringan lain. Pesantren memiliki jutaan santri. Ada ilmuwan Muslim di BRIN dan kampus negeri. Ada programmer dan pengusaha teknologi. Ada lembaga filantropi yang dapat membiayai beasiswa.

Mereka tak perlu mendirikan “Universitas Teknologi Umat Islam Indonesia Bersatu” lengkap dengan rektor, wakil rektor dan persoalan siapa mendapat kursi. Cukuplah dibentuk proyek bersama.

Baca Juga  Rovik Afifudin Tegaskan Pembangunan di Badan Sungai Waitomu Harus Sesuai Aturan

Misalnya korpus digital khazanah Islam Indonesia, pusat komputasi bersama, beasiswa seribu talenta AI, digitalisasi kitab pesantren, laboratorium pangan halal, atau konsorsium teknologi pertanian. Nama organisasinya tidak terlalu penting. Hasilnya yang lebih penting.

No More Posts Available.

No more pages to load.