Dalam draf yang dibacakan pada penutupan terdapat 12 butir. Sesudah pembacaan, forum masih mengusulkan agar dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina untuk memperoleh hak-haknya secara adil ditegaskan. Usul itu diterima. Palestina rupanya tak cukup hanya menjadi anak kalimat dalam pembicaraan diplomasi global.
Saya membaca kembali enam halaman Taujihat itu. Menarik untuk melihat bukan hanya apa yang diputuskan, tetapi “apa yang sekarang memenuhi pikiran para ulama”. Saya membayangkan, semua yang dipikirkan ulama se-Indonesia dirangkum dengan padat, pilihan kata yang paling tepat, dan dengan penuh pertimbangan.
Jawaban yang saya temukan dari Taujihat itu mungkin mengejutkan orang yang masih membayangkan kongres ulama sebagai tempat orang berdebat tentang qunut, jumlah rakaat tarawih, panjang jenggot, atau posisi telunjuk ketika tahiyat. Tiga butir pertama Taujihat justru berbicara ekonomi.
Saya menghitung bentuk kata yang muncul secara literal dalam Taujihat — bukan rumpun atau lemma: umat (16), bangsa (12), Islam (12), negara (10), penguatan (10), ekonomi (8), pendidikan (8), syariah (7), teknologi (7), kedaulatan (6).
Itulah fokus pikiran ulama. Istilah yang dipakai macam-macam. Ada reaktualisasi Ekonomi Pancasila (8) dan Ekonomi Syariah (7), Danantara Syariah, koperasi, UMKM, pesantren, reforma agraria, tata kelola sumber daya alam, kedaulatan teknologi, ekspor komoditas strategis, investasi, sampai pembatasan praktik oligarkis.









